Post Terakhir

Ujian Hidup Membawa Kebahagiaan yang Lebih Sempurna

Diambil dari sumber http://www.hidayatullah.com

Tahun 2009 adalah masa yang amat membekas dalam perjalanan hidupku. Tahun tentang harapan, kesedihan, dan perjalanan memahami takdir Tuhan. Roda kehidupan berputar seiring kegembiraan dan kesedihan yang silih berganti. Tawa dan senyuman kemarin sore terasa cepat berganti dengan tangis dan ratapan ke esokan harinya. Takdir Tuhan saat itu seolah sulit dimengerti dan diterka hikmahnya. Ujian kehidupan yang pernah aku alami telah mengajakarkan arti hidup itu sendiri. Saat itu aku masih duduk di kelas 2 SMP. Masa-masa yang penuh cerita tentang semangat belajar, petualangan, dan pertemanan. Aku adalah anak ketiga dari empat bersaudara dalam keluargaku. Jagoan ayah satu-satunya. Seorang anak laki-laki dengan harapan mampu melindungi kedua kakak dan adikku yang semuanya perempuan. Setidaknya aku mengerti itu dari setiap kali ayah menatapku. Ayahku seorang dosen disalah satu Universitas swasta di Kabupaten Pandeglang, Banten. Pengajar sejati dengan dedikasi dan ketulusan dalam setiap ilmu yang diberikan. Mengajar penuh arti dan substansi yang lebih dari sekedar kata-kata dalam buku. Ia menjadi panutan bagi kami. Tulang punggung keluarga yang selalu bekerja keras dan penuh tanggung jawab. Sungguh, kami benar-benar mengagumi ayah yang selalu dengan topi hitam dan kemeja biru kesayangannya itu. Ayah yang selalu menekankan kepada anak-anaknya untuk terus sekolah sampai jenjang yang paling tinggi. Selain itu, kami pun sangat bersyukur memiliki seorang ibu yang sangat sabar dengan senyuman yang selalu mendamaikan. Perhatian dan pengertian menjadi bahasa kasih sayangnya. Kami selalu berfikir bahwa kami sangat beruntung memiliki ayah dan ibu seperti mereka. Kehangatan setiap makan malam atau sarapan pagi sebelum pergi ke sekolah itu menjadi kebahagian tersendiri bagi keluarga kami. Sekedar candaan buat kedua kakakku yang sedang sama-sama jatuh cinta atau candaan tentang warna kulitku yang cokelat hasil dari mengikuti kegiatan pramuka membuat hangatnya kebersamaan itu menjadi sangat manis.

Akan tetapi, suatu pagi di bulan maret itu telah mengubah segalanya. Ayah yang sedang duduk diruang tamu tiba-tiba roboh tak berdaya. Badanya sangat dingin dengan butiran keringat yang membanjiri sekujur tubuhnya. Mata ayah terus menatap keatas dan bibirnya menjadi aneh. Aku menjadi gagap saat itu karena tak tahu harus berbuat apa. Ibu dan kedua kakakku amat panik. Aku berlari kejalan raya dengan harapan ada tumpangan untuk membawa ayahku ke rumah sakit terdekat. Akhirnya sebuah mobil berhenti didepanku dan sepertinya memahami arti dari lambaian tangan dan raut wajahku yang panik saat itu. Akhirnya, ayah dapat dibawa ke rumah sakit terdekat. Cukup lama kami menunggu jawaban dokter tentang kondisi ayah saat itu. Ibuku coba terus menenangkan kami yang tertegun tak percaya apa yang telah terjadi. Dokter yang memeriksa ayah pun keluar dan berbicara dengan nada tak tega bahwa ayah kami mengalami Stroke berat. Betapa terpukulnya ibu dan kedua kakakku mendengar itu. Aku tak tahu sama sekali apa itu Stroke dan asal menerka itu sama seperti masuk angin. Ternyata dugaanku salah setelah melihat langsung kondisi ayah. Jauh lebih buruk dari sekedar masuk angin, ayahku menjadi lumpuh. Hari itu pun menjadi sangat pilu bagi kami.

Akhirnya ayah dapat pulang setalah hampir satu bulan penuh dirawat dirumah sakit. Tapi, tidak banyak yang berubah dari kondisi ayah saat itu kecuali sudah dapat berbicara dengan cukup baik. Aku kembali menerka-nerka sambil berharap ayahku bisa segera normal kembali. Ternyata dugaanku tetap salah, ayah masih lumpuh. Terbaring lemah sambil terus menangis meminta maaf. Tak pernah kubayangkan sebelumnya seorang ayah yang ku kenal sangat tegar bak batu karang harus menjadi tak berdaya saat itu. Ibu terus membesarkan hati ayah agar tetap kuat. Aku malah kembali menerka-nerka mungkin setalah itu kesulitan ekonomi akan melanda keluargaku. Dugaanku memang benar kali ini. Ibuku terpaksa mengambil peran ayah sebagai tulang punggung keluarga. Terlebih bahwa ayahku bukan seorang pegawai negeri sipil, jadi tak ada uang tunjangan apapun. Ibu harus banting tulang menjadi tukang kue dan bantu-bantu ditoko bibiku saat itu. Kehidupan kami menjadi sangat berubah. Tak ada lagi keceriaan di makan malam dan sarapan pagi seperti biasanya. Canda tawa telah hilang oleh lamunan-lamunan kosong. Kakak pertamaku murung memikirkan bagaimana nasib kuliahnya saat itu. Kakak keduaku berada diambang harus mengubur mimpinya kuliah di Universitas Indonesia. Sementara, aku pun kehilangan semangat untuk terus bersekolah. Malam itu, keyakinan kami pun goyah.

Aku terus bertanya-tanya mengapa Allah memberikan ujian seperti ini. Untuk apa Allah membuat ayahku menjadi lemah tak berdaya. Pertanyaan itu terus bergejolak dalam benakku. Hingga akhirnya bulan Ramadhan pun tiba. Tak sedikit pun ada rasa suka cita yang aku rasakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Antusiasme tarawih pertama atau meriahnya kembang api dan petasan khas dibulan suci Ramadhan sama sekali tak menarik perhatianku. Hatiku tetap bertanya kepada Allah atas apa yang menimpa keluargaku. Buka puasa saat itu terasa hambar walaupun berbuka dengan yang manis. Acara-acara komedi di waktu sahur pun tak mampu membuatku tertawa seperti biasanya. Aku pikir begitu pun dengan kedua kakakku yang tak kunjung hilang akan lamunan kosongnya. Shalat malam dan tilawah kami seperti tak mampu mengusir kesedihan saat itu. Kami benar-benar rapuh dan semakin terlelap dengan kesedihan.

Pada hari ke-10 Ramadhan terjadi suatu hal yang tak pernah kami lupakan. Atas permintaan ayahku, kami diminta untuk shalat shubuh berjamaah dirumah. Tak biasanya, karena ayah selalu menyuruhku shalat shubuh dimesjid. Saat shalat akan dimulai tiba-tiba ibu meminta dengan raut wajah yang sedikit serius agar kami semua menghayati setiap bacaan dalam shalat. Aku ditunjuk menjadi imam saat itu. Saat takbir dimulai, bibir ini bergetar penuh kekhusyuan. Setiap arti dari bacaan shalat saat itu benar-benar membuat sekujur tubuhku bergetar. Aku pun tidak pernah merasakan shalat dengan sangat khusyu seperti ini. Isak tangis dari ibu dan kedua kakakku membuatku tak kuasa meneteskan air mata. Hingga pada akhirnya, setelah shalat berakhir suasana menjadi pecah oleh tangis kami sambil memeluk tubuh ayah. Kami seperti meluapkan semua kesedihan kami saat itu. Dengan suara yang terbata-bata ayahku meminta maaf kepada kami semua. Dengan suara penuh cinta, ibu meyakinkan kami semua bahwa ujian hidup yang sedang kami alami justru adalah bentuk kasih sayang Allah SWT. Ujian untuk naik kelas pada kehidupan yang lebih bahagia. Seketika pertanyaan-pertanyaanku selama ini seperti hilang oleh kata-kata ibuku. Entah mengapa, kami pun merasa semakin kuat menghadapi itu semua. Lembaran baru keluarga kami telah dimulai dengan semangat baru. Canda, tawa, dan senyuman telah kembali lebih indah dari sebelumnya. Shalat dan tilawah itu telah memberikan kekuatan jiwa yang luar biasa. Dengan semangat baru itu, kakak pertamaku berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan predikat Cum Laude. Sedangkan kakakku yang kedua berhasil masuk Universitas dengan beasiswa walaupun bukan Universitas impiaannya. Sementara aku mampu melanjutkan ke SMA juga dengan beasiswa saat itu. Aku semakin mengerti mengapa Allah memberikan ujian-ujian kepada hamba-Nya. Jika kita lebih memahami setiap Takdir-Nya, sebenarnya tersimpan kebahagiaan yang lebih sempurna.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments