Post Terakhir

TERBANG KELANGIT DAKWAH

mystical-doves-animal-bird-blue-dove-freedom-sky

 

Kala itu tepatnya almanak di rumahku menunjukkan pada bulan yang sangat mulia nan suci penuh hikmah yaitu bulan sakral Ramadhan pada tahun 2009 aku tercatat sebagai mahasiswa Fakutas Dakwah Institut Agama Islam Negeri Antasari  Banjarmasin, sebenarnya aku tidak ada minat, planing rencana, bahkan tidak ada niat yang terbesit sekalipun dalam benak pikirku, dan yang ada tertulis di otakku “kenapa aku masuk Fakultas Dakwah ? mau jadi Penceramah ? entahlah aku juga gamang serta bimbang saat memasuki kampus yang bernama Fakulas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin itu, yang kutahu Fakultas Dakwah itu hanyalah rumah belajarnya para da’i, para Ustadz dan para penceramah kondang, namun sejak itu aku sadar diri bahwa arah pelayaran ku sebenarnya bukan jalur khotbah di kampus yang sarat panggung  mimbar tausiah tersebut… namun tetap Dakwah, Dakwah dan Dakwah …

***

Pasca aku lulus dari sekolahAliyah MAN 2 Martapura  aku berencana mengkiblatkan diriku keperguruan tinggi di salah satu kampus yang cukup di pandang oleh para calon mahasiswa di Kalimantan Selatan ini, tepatnya di Banjarbaru, yap ! betul dialah kampus olahraga  JPOK Universitas lambung Mangkurat, aku berminat kesana karena aku ingin sekali melampiaskan hobi yang aku geluti sejak kecil, olahraga rakyat yang menarikan si kulit bundar di rumput hijau, sambil berlari menerjang ke arah gawang lawan , ya betul dialah sepak bola, karna saking cintanya diriku terhadap olahraga yang satu ini, sampai sampai aku sudah mempersiapkan misi untuk berbaur ke kampus yang sarat pelajaran olah raga itu, tapi itu semuanya sudah punah musnah, hilang sekejap semenjak tragedi tanggal 1 Mei 2009 setelah pulang shalat Jum,at  aku mengalami ujian yang  sangat pahit bahkan lebih pahit dari soal soal Ujian Akhir Nasional 2009 yang baru  saja aku kelarin beberapa hari yang lalu, ketika aku menelusuri jalan Ahmad Yani kilo meter 40 menuju pulang kerumah, dengan perasaan yang tergesak gesak, emosi remaja yang meluap luap disertai bisikan syetan yang terkutuk, tanganku dengan serta merta memacu gas kendaraan Supra X 125cc yang berplat merah dinas kantor punya ayahku, kulihat jarum speedometer mengarah angka 115  km per jam ! aku benar benar puas saat itu namun beberapa detik kemudian tiba tiba muncul medadak di hadapanku benda pabrikan asal Jepang yang berwujud Toyota Yaris hitam yang melaju kencang ke arahku dan … aaargh ! krak !  dan gelap senyap …

***

Ku buka pelan kelopak mataku, kucoba sambil bangun, namun terasa lemas, hah? di mana ini ? kenapa aku terbaring disini ? kemudian aku sadar bahwa aku baru saja mengalami kecelakaan fatal, bahkan aku baru meyadarinya kalau kaki kanan ku yang kerap menendang bola untuk melesakkan goal saat bermain sepak bola  harus patah !, Yaa Allah ! ! ! aaargh hiks hiks  ! , sedikit demi sedikit dua buah bola mataku mulai berbinar binar dan aku mulai melelehkan air mata tangis yang bercampur luka darah yang mengucur dikulit wajahku karna menghantam suatu benda keras tabrakan tadi, isak tangis ku terus berlanjut dengan perasaan mulai sedih dan kemudian rasa sakit mulai menjalar jalar keseluruh organ tubuhku, benar benar sakit, sangat sakit, ini pedih sekali, kemudian seorang polisi menghampiri ku dan bertanya “nama kamu siapa dik ? punya nomor telpon orang tua mu ? dengan terbata bata aku bilang Abdul Wahid , iya aku ingat nomor hand phone Ayahku, kemudian rasa sakit semakin menjadi jadi aku semakin berteriak merintih kesakitan, aku hanya bisa nangis tersedu sedu, Yaa Allah pintaku dalam hati…

***

Sirene mobil patroli mulai memecah pengguna jalan  Ahmad Yani untuk membukakan jalan mobil  tersebut yang didalamnya terdapat diriku dalam  keadaan kritis, 2 orang polisi mengasuhku dipangku mereka dengan hati hati,  dan ada 2 sosok lagi yang sangat resah dan gelisah yang selalu mengucapkan kalimat istighfar dari mulut mereka tanpa henti, namun terdengar isakan tangis kecil dari seorang wanita yang menghantarkanku menuju ke rumah sakit Ratu Zalecha di Martapura, dialah ibu kandungku, mata ibuku mulai melelehkan air mata kasih sayang terhadap anaknya yang pertama lahir  ini dan memberikan kehidupan di dunia ini, ibu mulai mengusap linangan air mata yang membasahi pipi ku, dan berkata dengan nada pelan sambil terisak isak, “Sabar nak, sabar ya nak ingat Allah ya nak dan hiks hiks …aku lagi lagi harus menangis tersedu sedu, namun bukan tangis kesakitan karna luka patah kaki ku, melainkan tangis haru dari seorang  anak yang tersentuh akan belayan kasih sayang dari sosok ibu yang  selalu senantiasa merawat diriku sejak kecil sampai aku dalam keadaan kritis, Ayah yang kulihat raut muka beliau tidak mengeluarkan setetes air mata, namun aku hafal betul wajah Ayah saat itu sangat sedih dan terpukul melihat kondisi anaknya yang terbaring lemah dirumah sakit. Aku pun  mulai merasa menjadi anak yang durhaka, sudah membuat orang tuaku repot, sedih dan aku berkata minta maaf kepada Ibu dan Ayah ku, namun tak ku sangka, Ayah dan Ibu malah tidak marah mereka malah membelai belai rambutku dan mengucapkan kata kata sayang terhadap diriku seraya berdo’a supaya aku lekas sembuh, batin ku bergetar “inilah rasa cinta tulus nan suci dari sosok manusia yaitu Ibu ku,Ibu ku,Ibu ku dan Ayah ku… terima kasih dan rasa syukur kupanjatkan ke Khadirat Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Yaa Allah, dan  tak akan aku lupakan moment hari ini dimana pengorbanan kalian untuk ku ini, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan pula, kalianlah yang  selalu terpatri di hatiku…Amin.

***

Aku harus merintih luka kesakitan pada saat aku dalam masa masa terapi penyembuhan tulang kaki kananku yang selalu menyayat nyayat tanpa ampun, sungguh hanya kutanggapi dengan derai air mata tanpa henti, aku benar benar hampir putus asa dengan luka perih yang harus aku rasakan, perih sekali, namun tangis ini  terhenti sejenak, aku melihat sosok mukena putih sedang shalat tengah malam dalam sujudnya yang lama, ya dia Ibuku yang bangun untuk shalat malam, aku sambil menguping ditengah rasa sakit kakiku yang pedih… pelan sekali namun jelas, ibuku melayangkan butiran butiran do’a yang sangat menyetuh “Yaa Tuhan aku rela sebagai ibu,  jika luka anakku bisa dipindahkan ke kakiku saja, daripada anakku harus kesakitan seperti ini ” ini benar-benar membuat air mataku tumpah lagi tanpa terbendung, aku tidak mampu bersuara apa apa lagi… ku hanya terisak isak…

***

Oksigen pagi hari ini yang aku hirup benar benar nikmat, seraya ku ucapkan Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang Maha pengasih akan nafas kehidupan  disetiap detak denyut nadiku, setiap hembusan oksigen yang gratis dari Allah  aku hayati dengan rasa syukur kepada Allah swt karna telah memberiku bonus hidup lagi dimuka bumi-Nya dan dibawah naungan Langit-Nya.Setelah hampir 2 bulan dari tragedi kecelakaan 1 Mei yang berdampak fatal pada bagian kaki kananku yang harus dibabat dengan kayu penyangga sebagai terapi khusus yang diterapkan dari dokter bimbinganku.Diotak ku masih terekam kejadian yang amat pilu itu waktu aku mengebut sampai aku terbaring saat ini, aktifitas gerakan tubuh ku hari ke hari hanyalah duduk, tidur dan shalat sambil berbaring, yaaah mau dikata apa lagi, inilah resiko yang disematkan untukku. Pagi itu sambil melatih gerakan kaki kananku aku menanti sepucuk surat pengumuman kelulusan hasil Ujian Akhir Nasional yang hari ini dibagikan kepada orang tua murid, setelah beberapa jam aku menunggu tiba tiba Ibu dan Adikku datang, mereka berdua langsung menatap ku, sambil berkata “Alhamdulillah kamu lulus nak, “Alhamdulillah ! sorak aku kegirangan, namun ditengah tengah kegirangan itu ada tamu yang berpakain sekolah seragam putih dan celana panjang abu abu, “Oh kamu Nanda, yuk masuk kedalam  kataku, sambil ngalor ngidul, rupanya Nanda temanku ini juga lulus , dia adalah salah satu rekan karib sekelasku di Aliyah program Bahasa, ditengah percakapan haru nan bahagia kami karna telah lulus dari sekolah tingkat akhir, temanku ini sontak saja melontarkan kalimat yang membuatku kaget,”Kemana nih setelah lulus ini ? kalo aku mau kuliah di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin ngambil Jurusan ilmu Hukum ;kata Nanda, kemudian kujawab lemas “ gak tau mau kemana setelah ini, yang pasti pengen nyembuhin tulang kaki kananku dulu supaya bisa jalan kembali.

***

Seketika sang surya berganti rembulan disertai kerlap kerlip bintang  bintang yang berpijar di hamparan langit kota Intan Martapura setelah pudarnya pesona semburat senja merah merona yang mulai menyingsing jubah senjanya dan menjelma jadi nuansa malam kosong dan hampa, sehampa pikiranku terus di rayu oleh pertanyaan yang baru saja siang tadi .Aku mendapat tawaran berupa brosur berwarna hijau muda, disana tertulis penerimaan mahasiswa baru IAIN Antasari Banjarmasin angkatan 2009 dari keluarga ku yang baru saja menjenguk kondisi keadaan kakiku yang masih terkujur lemas, setelah aku baca brosur tersebut  yang memberiku penawaran berupa kampus yang mengajarkan ilmu Agama Islam,  batinkuku mulai bertanya tanya”bagaimana sepakbola ku ? yah sudahlah kakiku sekarang sudah tidak bisa lagi berlari kencang dan menebas bola ke arah jala gawang lawan. Suara hati kecilku berkata “sudahlah, masuk saja, daripada tidak kuliah sama sekali dan nganggur dirumah mending kuliah” gejolak batin ini terus mendesakku untuk masuk keperguruan tinggi Agama Islam di Banjarmasin tersebut, padahal aku tidak tahu sama sekali dimana letak kampus IAIN Antasari Banjarmasinitu, maklum  waktu itu aku masih buta peta kawasan Banjarmasin dan sekitarnya.Telunjuku mulai memilih milih Fakultas apa yang ingin ku rantaui di kampus hijau julukan kampus tersebut, disana tertulis Fakultas Tarbiyah untuk Pendidikan calon guru langsung kulewati tanpa minat, kemudian Fakutas Syariah disana terdapat jurusan yang mengajarkan ilmu Ekonomi Islam, perbankan, muamalat dan ilmu Mahzab mahzab fiqih. Fakultas Ushuluddin ? apa ini ?  ternyata disana menyajikan jurusan Tafsir Hadist, Perbandingan Agama, Akidah Filsafat, Psikolog Islam wah ini mah tujuan para santri yang lulusan dari pondok Pesantren bahkan disana membuka Program khusus berupa bea siswa bagi calon mahasiswa Tafsir Hadist dengan syarat hapalan Qur’an untuk di Asramakan, dan yang tersisa Fakultas Dakwah, aku langsung berpikir  ini sih sama saja dengan Fakultas Ushuliddin pada intinya ceramah dimimbar masjid masjid, entahlah aku mulai menelusuri di bawah tulisan Fakultas Dakwah yang menyajikan beberapa program yang membuat ku bingung, disana tertera Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam kemudian Program Komunikasi dan Penyiaran Islam, dan terakhir  Teknologi Informatika ? hah ? sekali lagi ku eja “Teknik Informatika. Apa hubungannya jurusan yang satu ini di Fakultas Dakwah ? menurutku ini tidak ada sangkut pautnya dengan Fakultas Dakwah yang identik dengan ceramah atau tausiah, tapi aku mulai tertarik dengan Jurusan Teknik Informatika, dan  malam itu aku langsung menanyakan kepada keluargaku yang bekerja di kampus IAIN dan ternyata untuk pendaftaran jurusan Teknik Informatika sudah ditutup alias penuh,  yah kemana lagi aku ? Fakultas Tarbiah dan Syariah sama sekali tidak menarik minat ku, Fakultas Ushuluddin ? sadar diri bahwa modal ilmu pelajaran Agama Islam ku tidak cukup untuk menjangkau kampus yang kental dengan ilmu Tauhid atau Teologi ke-Tuhanan yang selalu membahas kajian kitab kitab kuning ala pesantren. Dan keluargaku memberikan penawaran terakhir yang tersisa yaitu Fakultas Dakwah jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam,  hmm cukup menarik kedengarannya, namun apa maksudnya  Komunikasi dengan Dakwah ? aha mungkin ini Jurusan yang tepat bagiku ? tapi aku masih ragu, ah sudahlah ! aku pilih ini saja, sejak itu jarum kompasku mengkiblat ke titik fokus kampus Dakwah, mudah mudahan lulus saja namun aku masih saja gamang,  jadi apa nanti aku kedepannya ? hah sudah lah . Semoga penerbangan  menuntut ilmu ku ini baik baik saja, pintaku sekali lagi kepada Sang Maha Kuasa, Amin…

***

Kesatria  bertongkat ! itulah julukan yang di sematkan oleh teman teman ku di Martapura, sejak aku mulai bisa menapaki serta menjelajahi daratan bumi Allah swt dengan pegangan 2 tongkat khusus yang membantu aku supaya bisa berjalan lagi, Alhamdulillah lambat laun aku sudah mulai bisa berdiri lagi namun masih dari nol seperti balita baru bisa jalan. Dan hari ini aku sudah berkemas pakaian pakain secukupnya dengan perabotan rumah tangga yang memadai , yap aku sudah resmi menjadi mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Antasari Banjarmasin yang diwajibkan oleh pihak kampus masuk Ma’had Aly alias asrama yang diperuntukkan kepada  mahasiswa baru  untuk pembinaan ilmu Agama Islam selama 1 tahun dengan kegiatan mengkaji kitab kuning ala pesantren, pelatihan berbahasa Inggris dan Arab, dan mengikuti aturan aturan dari para Ustadz Ustadz di asrama, ini benar benar diluar perkiraan ku ! aku kira aku merantau ke Banjarmasin hanya jadi Mahasiswa yang pulang pergi dari rumah ke kampus untuk kuliah saja, inilah kenyataan yang harus aku jalani dengan 2 batang tongkatku ini ,layaknya  seorang pendekar yang memulai petualangannya di kampus hijau IAIN Antasari Banjarmasin. apa aku masih bisa ? bisakah aku jadi kestria sejati yang tertatih tatih menjelajahi kampus sarat ilmu pengetahuan agama Islam ini  dengan bermodalkan 2 senjata tongkat ku ? masihkah aku tulus jadi mahasiswa Fakultas Dakwah yang aku sambangi dengan modal nekad tanpa niat ?  kuharap pada mu Yaa Robb berilah aku mantera kesabaran dan ke ikhlasan Mu… mengharap bimbingan tintah takdir –Nya.

***

Pasrah lah hamba ! ini lah yang ada di benakku dan aku memulai mengikuti aturan pertama di dunia perkuliahan ini dengan menghadiri acara pembukaan perkuliahaan bagi mahasiswa baru angkatan 2009 khusus mahasiswa(i)  Fakultas Dakwah sekaligus acara buka puasa bersama di kantor kampus Fakultas Dakwah, seraya aku berjalan menuju kampus Fakultas Dakwah mulai dari asrama Ma’had Aly putera, akupun mulai tersipu malu karena sosokku yang berjalan dengan tongkat, ternyata banyak mengundang perhatian orang orang disekitar kawasan kampus yang menatap diriku, entah kasihan atau apalah itu, aku cuma bisa tersenyum saja karena aku tahu mereka memaklumi kehadiranku begini yang  apa adannya, dari kejauhan senja sambil memacu tongkatku untuk bergegas ke kampus aku melihat sosok  menara pencakar langit yang berdiri gagah menjulang ke atas langit dan seolah olah  membelah langit lembayung awan awan senja yang menari nari dikawasan kampus IAIN Antasari  yap, itulah menara yang berpijak tanpa gerak sekitpun di area kampus  Dakwah dan dia diberi nama menara RAFADA  RAdio FAkultas DAkwah yang selalu mengudara di langit langit kota seribu sungai , waw keren kata ku dalam hati, sesaat tibalah diriku di kampus Dakwah dan sekali lagi aku mulai dilirik orang orang yang ada di ruangan Labotarium Fakultas Dakwah , yah aku mafhumi saja dengan kondisi ku yang tampak mencolok ini, kemudian aku duduk disamping barisan belakang sambil merebahkan 2 batang tongkat ku, sontak saja mereka yang ada disampingku mengajakku untuk berkenalan  sebagai sesama mahasiswa baru, yah teman baru, teman  yang sama sama di bawah naungan langit Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin.Baru dan hal hal baru yang serba serbi baru…

***

Ahlan wasahlan marhaban ,selamat datang  di Fakultas Dakwah”  itulah kata kata yang menyabut kehadiraan sosok kami di Fakutas Dakwah sejak kami resmi menjelma menjadi punggawa mahasiswa IAIN Antasari Banjarmasin, dan satu ayat yang di sampaikan oleh Pak Dekan kepada kami yang seolah olah ayat ini menyabut kedatangan kami dengan mesra nan hangat akan ketulusan-Nya itu surat An-Nahl 125 yang berbunyi :

SuratAn-Naĥl(TheBee) – سورة النحل


ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ .

serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

 ***

Aku tidak tahu kesejukan apa pada ayat yang baru saja dilantunkan oleh pimpinan kampus kami barusan, yang seakan akan ayat ini mulai merangkul hati kecil kami dengan angin kesejukan amat sangat lembut menyusuri relung batin qolbu kami, ayat ini mulai mengajak kami untuk berkomunikasi dengan Allah swt, ayat ini mulai mentafsirkan bahwa Fakutas Dakwah bukanlah kampus yang menjadikan kami kedepannya menjadi seorang penceramah saja, tapi Dia memberitahukan kepada kami bahwa arti Dakwah sebenarnya di ambil dari bahasa Arab yaitu menyeru, mengajak, serta memanggil bukan ceramah  saja, tapi juga menghimbau sekalian umat Rasulullah dengan cara apapun, baik itu dengan media teknologi, Internet yang diselipkan ajaran agama Islam, baik itu melalui karya tulisan, seni lukisan, bahkan ayat ini menegaskan agar kami wajib untuk mengajak sekalian umat dengan tata cara ajaran  agama Islam tanpa paksaan untuk berbuat amal kebajikan, dan Ayat ini mulai merasuki organ denyut nadi kehidupan kami bahwa Dakwah sebenarnya merupakan oksigen bagi semua umat manusia, jelas sekali hidup matinya suatu Agama itu ditentukan oleh Dakwah. Dan Agamalah yang menjadi jantung kehidupan bagi umat yang selalu memerlukan hembusan nafas oksigen dari Dakwah yang menyebar dimana mana, kemudian ayat ini di kolaborasikan oleh pak Dekan dengan Hadist  Rasulullah yang tidak asing lagi dikupingku,”Sampaikanlah dariku walau satu ayat” mendengar kata kata petuah beliau tadi , sejenak di dalam dada kami mulai tumbuh kata “Dakwah untuk umat” well apapun itu caranya selama tidak ada unsur unsur yang bertentangan dari ajaran Agama Islam…aku mulai bertekad dalam sanubari batinku bahwa pilihanku diFakultas Dakwah merupakan pelayaran suci atas  restu dari do’a ayah dan ibuku, aku berjanji bersama teman temanku untuk menengok teman teman kami yang belum dapat hidayah dari Allah, kami yakin umur kami di tangan Allah, serta kesempatan di tangan Allah untuk tulus selalu menebar butiran butiran ayat ayat suci Al Quran serta sunah Hadist dari baginda tercinta kami Rasulullah SAW dan mengumandangkan kalimat Tauhid dihamparan langit ke langit, kami akan berdakwah disegala penjuru sudut negeri negeri di seluruh dunia, untuk meraih Ridha Allah swt. Amin. “kan ku sentuh langitku, duhai Fakultas Dakwah”.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments