Post Terakhir

Sebuah Doa Yang Tidak Disadari

doa-bayar-hutang-800x416

Sebagai seorang muslim saya punya kayakinan bahwa setiap doa itu tidak akan pernah sia-sia. Pasti ada jawaban dari Dzat Yang menjadi sandaran doa tersebut. Berdoa sama artinya dengan meminta. Ketika kita punya permintaan dan itu dilakukan berulang-ulang pasti yang diminta akan menaruh belas kasihan pada kita. Apalagi diminta secara berjamaah, yaitu dengan doa bersama. Pengabulan atas doa bisa dalam jangka waktu yang singkat dan bahkan ada yang harus menunggu lama.

Ketika saya menonton video Wisata Hati edisi 8 Januari 2015 yang membahas tentang Asmaul Husna “Arrahim” yang artinya Yang Maha Penyayang. Ustadz Yusuf Mansur menuliskan sebuah doa asamaul husna yang pernah beliau peroleh dari gurunya. Seketika itu juga saya teringat pada seorang guru (kiayi) di pesantren yang membesarkan saya dengan ilmu agama dan bahasa Arab. Beliau  KH. Muhammad Syamsul Arifin yang namanya tidak asing di telinga masyarakat Pamekasan Madura khususnya. Beliau terkenal dengan  sikap wara’, kedalam ilmu dan keistiqamahannya dalam  memegang erat suatu  keyakinan.

Doa yang ditulis oleh Ustadz Yusuf Mansur menyadarkan saya dan mengembalikan ingatan saya pada kalimat-kalimat yang istiqamah dibaca oleh guru saya, KH. Muhammad Syamsul Arifin setiap kali memulai murok (mengajar) kitab Tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin Assuyuthi dan Jalaluddin Almahalli di Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan. Tiga tahun lamanya (sejak pertengahan 2006-2009) saya mendengar kalimat-kalimat tersebut. Tidak hanya mendengar tapi saya dan teman-teman santri lainnya yang jumlahnya ribuan juga ikut membaca bergantian mengikuti bacaan kiayi.

Kebiasaan kiayi saya dalam membaca doa sebelum memulai mengajar Tafsir Jalalain, tanpa terasa, telah membuat saya dan mungkin juga teman-teman santri yang lain hafal dengan tahqiq. Walaupun sekali lagi pada saat itu saya belum tahu kalimat-kalimat yang kami ikut membacanya adalah doa dan doa untuk apa? Biasanya kalimat tersebut dibaca oleh kiayi dengan  pelan dan diikuti oleh seluruh santri yang berada dalam masjid. Pengajian kitab rutin setiap malam ini dimulai setelah berjamaah shalat maghrib sampai waktu shalat isya’ tiba.

Setelah beberapa tahun lamanya, sejak saya diberikan tugas oleh pesantren sebagai guru tugas di salah satu lembaga pendidikan, saya sudah tidak pernah membaca kalimat-kalimat tersebut. Saya kira itu hanya kalimat-kalimat biasa yang  biasa kami ikuti bacaannya di pesanten. Namun beberapa bulan yang lalu ketika saya membuka sebuah kitab yang berjudul Adzkarul Adzkaar karya Jalaluddin Assuyuthi (penulis Tafsir Jalalain), saya menemukan kalimat tersebut pada halaman  37 persis seperti kalimat yang biasa dibaca oleh kiayi saya tadi. Di atas kalimat tersebut ada judul Idzaa Ashabahu Hammun aw Khoufun yang artinya Jika Ditimpa Kesedihan dan Rasa Takut. Saat itu juga saya baru benar-benar sadar kalimat-kalimat ini ternyata doa dan menurut penulisnya doa untuk menghilangkan kesedihan dan rasa takut.

Bersamaan dengan ditemukannya kembali doa yang pernah saya baca mengiringi bacaan kiayi saya waktu mondok dulu, kemudian saya screenshot dan saya masukkan ke ppt sebelum diconvert ke jpeg, kemudian saya tambahkan tulisan di atasnya “Doa yang istiqamah dibaca oleh Pengasuh setiap memulai kajian kitab Tafsir Jalalain”. Dan saya upload di facebook pada hari itu juga, 7 Nopember 2015 : (3) مبرور الرازي الشافعي

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=554458538038983&set=pb.100004245252144.-2207520000.1465487562.&type=3&theater. Di kolom status saya tulis : Baru ketemua dengan hadis ini, ternyata doa untuk dijauhkan dari kesedihan dan kegelisahan/kesusahan. Ini cocok untuk santri baru”.

Dengan ditemukannya doa tersebut yang merupakan hadis Nabi saw, saya merasa senang tapi hati saya belum puas. Pertanyaan yang muncul dalam benak saya, “hadis ini dikutip dari kitab hadis apa?”.  Rasa ketidakpuasan saya tersebut akhirnya terjawab setelah membuka dan mencari hadis dimaksud di mawsoaat_hadeeth_02.exe. Hasilnya seperti dibawah ini:

مستدرك الحاكم;كتاب الدعاء والتكبير والتهليل والتسبيح والذكر
: [ 1877 ] أخبرنا أبو بكر محمد بن أحمد بن بالويه ثنا محمد بن شاذان الجوهري ثنا سعيد بن سليمان الواسطي ثنا فضيل بن مرزوق حدثني أبو سلمة الجهني عن القاسم بن عبد الرحمن عن أبيه قال قال عبد الله بن مسعود رضى الله تعالى عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما أصاب مسلما قط هم ولا حزن فقال اللهم إني عبدك وابن أمتك ناصيتي في يدك ماض في حكمك عدل في قضاءك أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو أنزلته في كتابك أو علمته أحدا من خلقك أو استأثرت به في علم الغيب عندك أن تجعل القرآن ربيع قلبي وجلاء حزني وذهاب همي إلا أذهب الله همه وأبدله مكان حزنه فرحا قالوا يا رسول الله ألا نتعلم هذه الكلمات قال بلى ينبغي لمن سمعهن أن يتعلمهن هذا حديث صحيح على شرط مسلم إن سلم من إرسال عبد الرحمن بن عبد الله عن أبيه فإنه مختلف في سماعه عن أبيه

Sejak saat itu saya merasa malu sebagai santri yang setiap hari mendengar kalimat-kalimat yang dibacakan/ditalaqikan oleh gurunya yang ternyata doa, tidak dipertanyakan, tidak direnungkan pesan yang terkandung di dalamnya. Dulu saya hanya merasa senang dengan mengikuti bacaan kalimat tersebut. Merasa puas hanya dengan membacanya. Sekarang sudah mengerti bahwa ilmu itu luas dan bahkan yang sampai pada kita hanya sedikit saja. Harus terus dicari, ditelaah, diteliti dan yang paling penting diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

*) Mabrurrosi, alumni Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan (2006-2009).

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments