Post Terakhir

Prasangka Buruk Itu Buruk

“Zal, elo liat kacamata gue gak?” tanya saya pada Rizal.

“Biasanya, taro dimana?” Rizal balik bertanya

“Biasanya ditaro di dalam tas. Tapi tadi pagi, gak ada di dalam tas. Jadi saya pikir ketinggalan di kantor.”

“Kemarin bawa ke lapangan gak?”

“Kemarin sih bawa tas, tapi gak sama sekali keluarin kacamata.”

“Berarti masih ada di dalam tas.”

Karena tadi saya tidak temukan kacamata di pagi hari, maka saya bertanya kepada teman yang lain. Saya masih yakin kacamata tertinggal di kantor.

“Har, liat kacamata saya gak?”

Tetap saya tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Terpikir oleh saya, Ocid. Dia yang biasa membereskan meja-meja kerja. Mungkin dia tahu.

Terpikir, “Siapa ya, yang iseng sembunyikan kacamata saya?” kata saya dalam hati, sambil tersenyum.

Sebelum bertanya kepada Ocid, saya kembali periksa tas saya. Kali ini, periksa di bagian lain dari tas.

Subhanallah, kacamata ketemu, tapi di bagian lain dari tas. Bukan di bagian yang biasa saya letakkan kacamata.

Sempat terlintas ‘hilangnya’ kacamata ada kaitannya dengan teman yang iseng menyembunyikan. Padahal kenyataannya tidak ada hubungannya dengan siapa pun.

Saya telah berprasangka buruk.

Dalam pengalaman yang lain. Waktu itu hari Jum’at pagi. Di Jum’at pagi, di daerah saya, biasanya ada orang-orang yang berkeliling meminta sumbangan atau pengemis.

Pagar rumah diketuk, disertai bunyi salam, “Assalamu’alaikum.”

Saya yang sedang berada di ruang makan, menjawab, “Wa’alaikumussalam.”

Sambil berjalan ke depan, saya berpikir, “Ini sepertinya ada orang yang meminta sumbangan.”

Sesampai di depan saya terkejut. Ternyata bukan peminta sumbangan atau pengemis. Yang datang adalah asisten rumah tangga dari tetangga saya.

“Ini ada oleh-oleh dari ibu.” ucapnya

“Dziigh!!” seperti palu godam menghantam kepala dan perut saya.

Saya menyangka ada orang yang meminta-minta, tapi ternyata yang datang orang yang memberi oleh-oleh.

Saya telah berprasangka buruk.

Berprasangka buruk itu benar-benar jahat. Orang yang tidak terlibat apa-apa dituduh. Orang yang tidak mengerti apa-apa ditempatkan sebagai ‘terdakwa’. Orang berniat baik disangka akan berbuat jahat.

Padahal menurut Al-Quran sebagian prasangka adalah dosa. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS Al-Hujuraat (49):12)

Dari Abdullah bin Umar ra., dia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah saw melakukan thawaf, mengelilingi Ka’bah seraya berucap, ‘Sungguh indah dirimu (wahai Ka’bah), sangat harum aromamu, sungguh agung dirimu dan agung pula kehormatanmu. Demi Rabb yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya kemuliaan seorang mukmin sangat agung di sisi Allah swt melebihi kemuliaan dan kehormatan dirimu (wahai Ka’bah). Yaitu kehormatan harta, darah dan bila mukmin itu selalu berprasangka baik.” (HR Ibnu Majah)

Kehormatan harta dan darah seorang mukmin serta prasangka baiknya lebih agung daripada Ka’bah. Subhanallah.

Dalam suatu riwayat, Rasulullah saw pernah bersama para sahabatnya di dalam masjid. Tiba-tiba Rasulullah saw bersabda, “Sebentar lagi ada seorang pria calon penghuni surga akan masuk ke masjid ini.”

Tak lama berselang, masuklah seorang pria. Para sahabat pun memperhatikannya.

Keesokkan harinya Rasulullah saw kembali berucap seperti ucapannya yang kemarin. Muncullah pria kemarin yang dilihat oleh para sahabat.

Demikian pula di hari ketiga. Rasulullah saw mengucapkan kata yang sama dan pria yang masuk masjid adalah pria yang sama dengan dua hari sebelumnya.

Para sahabat bertanya-tanya apakah gerangan yang telah dilakukan pria itu. Hingga Rasulullah saw mengatakan sebanyak 3 kali bahwa pria tersebut merupakan calon penghuni surga.

Hal ini membuat Abdullah bin Umar ra penasaran. Pria calon penghuni surga itu diikuti oleh Abdullah bin Umar ra hingga sampai di rumahnya.

Singkat cerita, Abdullah bin Umar ra meminta pada pria tadi agar diizinkan untuk menginap di rumahnya. Pria itu pun langsung mengizinkannya.

Pada saat menginap itulah, Abdullah bin Umar ra mencari tahu amalan apakah yang dilakukan pria tadi hingga Rasulullah mengatakan bahwa dia calon penghuni surga.

Di hari pertama, Abdullah bin Umar tidak menemukan amal sholih atau amal ibadah yang istimewa dari pria itu.

Di hari kedua pun demikian. Tidak ada yang istimewa dari ibadahnya pria itu. Semuanya standar-standar saja. Demikian pula di hari ketiga.

Karena seorang muslim hanya diizinkan menginap tiga hari di rumah saudaranya, maka Abdullah bin Umar pun pamit untuk pulang. Namun sebelum pulang, Abdullah bin Umar bercerita tentang sabda Rasulullah saw yang mengatakan bahwa pria yang dihadapannya merupakan calon penghuni surga.

“Mohon maaf saudaraku. Sebagaimana yang telah engkau dengar dari penjelasan saya barusan bahwa engkau adalah calon penghuni surga. Tapi, amalan apakah yang dilakukan hingga engkau menjadi calon penghuni surga?”

Pria itu menjawab, “Saya tidak memiliki satu pun amalan ibadah yang istimewa. Tapi saya terbiasa berprasangka baik kepada orang lain. Saya tidak berpikir macam-macam, ketika engkau minta izin menginap di rumahku. Oleh karenanya saya langsung mengizinkanmu.”

Subhanallah…prasangka baik dapat mengantarkan seseorang menuju surga.

Menurut dr M. Ted Morter JR., M.A. di dalam bukunya Your Health…Your Choice berkata, “Pikiran negatif adalah penghasil asam nomer satu dalam tubuh. Dan tingkat keasaman tubuh yang tinggi merupakan penyebab utama penyakit. Oleh karenanya, tubuh bereaksi terhadap mental negatif dan tekanan emosional yang ditimbulkan oleh cara berpikir negatif dan akan menjadi ancaman nyata bagi kerusakan fisik.”

Ya Allah…bantulah kami selalu agar terhindar dari prasangka buruk. Aamiin.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments