Post Terakhir

Please, Forgive Me!

Please, Forgive Me!

Forgiveness-Large
Assalammualaikum warrahmatullahi wabarokatuh.
Hari ini sama seperti biasanya tidak ada yang berubah, menjelang minggu ke 2 di bulan suci Ramadan, segala kegiatanku terasa biasa – biasa saja. Dari awal terjaga hingga kembali terlelap, rasanya tidak ada yang berbeda. Mungkinkah ini suatu petaka untukku?
Aku semakin tidak mengerti dengan keadaanku saat ini, seperti ada sesuatu yang hilang dariku.Rasanya aku merindukan kembali masa laluku, dimana aku selalu rindu berteduh di masjid ketika berpergian kemanapun. Aku merindukan kesejukan dan nikmatnya ketika selesai beribadah. Tapi sekarang nyatanya ak umengaku bahwa aku telah menjadi deretan manusia yang paling buruk di muka bumi ini. Huft!
Susah sekali rasanya untuk bisa keluar dari kebohongan itu, hidupku penuh dilumuri dengan kebohongan yang siapapun tidak akan pernah tahu selain Allah SWT. Aku sendiri tidak pernah mau mengakui keadaan ini tapi pada akhirnya ketika aku perlahan mulai keluar dari kebohongan itu, iman pun mulai melemah dan kembali lagi harus kulakukan perbuatan itu. Perbuatan yang tidak akan pernah kusebutkan pada siapapun selain pada-Nya.
Aku tidak pernah lupa pada kewajibanku sebagai umat islam karena aku juga tahu akan ada kehidupan yang lebih kekal dari dunia. Tapi rasanya ibadahku sia – sia, entah kenapa aku beribadah hanya untuk melepas kewajibanku, dan seperti tidak ada pengaruh apapun terhadap hidupku. I don’t know what happen for me?? Mungkin ini akibat dari banyaknya dosa yang telah kulakukan sehingga rahmat ramadhan sulit untukku terima. Semua ibadah yang kulakukan di bulan ramadhan ini hanya sekedarnya saja, ya harus kuakui itu. Aku sendiri tidak ingin terus larut dalam keadaan ini, kalaupun hidayah itu bisa kudapat dengan membelinya maka akan kulakukan itu. Dan sampai saat ini, Allah masih begitu baik kepadaku seperti nama salah satu surah dan salah satu sufatnya yaitu Ar – rahman tapi justru aku yang masih belum begitu baik kepada-Nya.

Hingga minggu ke – 2, lebih tepatnya puasa ke-13. Menjadi hari yang sangat kuingat dalam hidupku dan awal dari kegelisahan kami semua. Yah, pagi itu ketika ayahku sedang tidak di rumah. Dua orang laki – laki bermantel hitam datang kerumah dengan sengaja. Membawa berita yang sangat tidak ingin aku dengar. Aku bersama ibuku terkejut dan kulihat raut ibuku langsung sedih, tak perlu berlama – lama mereka singgah di rumah kami yang sangat sederhana. Mereka pun berlalu dengan meninggalkan kepedihan yang sulit untuk kami terima.
Ibuku langsung tertunduk lesu, kulihat air matanya mulai menitik satu persatu dipipinya. Aku hanya bisa terdiam untuk sementara, dan berpikir apa yang harus kulakukan selanjutnya. Aku tidak ingin hal ini terjadi, aku tidak mungkin membiarkan pihak Bank menyita rumah kami karena cicilannya sudah menunggak berbulan – bulan dan jumlahnya tidak sedikit yang harus dilunaskan setelah lebaran nanti, begitulah ancamnya.

Selama Ramadan ini, kedua orang tuaku berhenti menjadi pedagang jajanan di sekolah – sekolah terdekat karena keadaan. Aku mengerti bagaimana sulitnya mencari nafkah apalagi menjadi seorang pedagang kecil yang terus bersaing dengan pedagang lainnya yang makin banyak jumlahnya. Haruskah kusalahkan mereka yang telah bekerja dari pagi hingga petang? Tidak, ini bukan salah mereka. Ini kesalahanku yang mungkin kurang peduli terhadap keadaan keluargaku. Yang kutahu Ayah sengaja tidak membayar cicilan itu agar supaya jumlah cicilannya di perkecil, tapi nyatanya? Pihak bank sendiri tidak menerima itu.

Kejadian hari itu, menambah beban pikiran kami sekeluarga. Jangankan untuk menyicil tunggakan itu untuk makan sahur dan berbuka saja Ayah ku perlu jalan kesana kemari datang kekebun tetangga untuk memetik sayurannya, Aku malu kepada tetangga yang setiap hari, tiap minggu dan tiap bulan selalu saja datang orang asing menagih utang. Penghasilan perbulanku hanya Rp. 500.000 dan dengan jumlah itu, aku harus bisa membagi untuk biaya kuliah, cicilan sepeda motor dan kebutuhan sehari – hari. Aku sendiri bingung terlebih lagi aku terlahir sebagai anak pertama. Seperti ada tanggung jawab sendiri untukku. Untuk meringankan utang keluarga sepertinya belum bisa kulakukan.
Ah, di pertengahan Ramadan kali ini baru terasa bedanya. Sekarang, kami sekeluarga menjadi lebih pelit sedikit dan penuh perhitungan bahkan untuk berbuka saja kami perlu mempertimbangkan kembali makanan apa yang akan menjadi pembuka. Setiap ada rezeki lebih kami lebih rela memilih untuk menabungnya. Karena untuk melunasi tunggakan itu perlu waktu 3 bulan untukku bekerja.

Ini ujian, cobaan atau hukuman? Entahlah kurasa ketiganya sama saja. Sekarang rumah ini menjadi perhatian utama kami. Terlebih padaku, sebisa mungkin akhir Ramadan ini harus bisa dapat uang dengan jumlah yang tidak sedikit dan sepertinya meninggalkan bangku kuliah adalah salah satu caranya.

Di minggu akhir Ramadan ini, aku berusaha memperbaiki ibadahku, memperbaiki niat dan caranya. Terlambatkah? Kuserahkannya semua pada Allah yang memiliki sifat Ar-Rahman dan Ar – Rahim. Melatih perasaan kami dengan situasi kedepannya nanti. Kalaupun hal buruk itu harus terjadi semoga kami bisa menerima semuanya dengan rela hati dan berkah masih menyertai keluarga ini kalaupun tidak untukku, untuk Ibu dan Adik– adikku tercinta yang setiap tahunnya menuntut dibelikan baju lebaran, maafkan Abangmu yang setiap tahun hanya bisa berkata “Nantilah itu”.

Tidak ada yang tahu sedetik kemudian apa yang akan kembali terjadi dalam keluarga ini. Apakah masih bisa berada satu atap dalam susah senang atau berpisah mencari atapnya masing – masing. Hanya Allah yang tahu. Tidak perlu kuminta, pasti dalam setiap sujud Ayah, Ibu dan keempat Adikku terselip doa harapan untuk masih bisa bersama dalam satu atap di Ramadan tahun depan, amin! Insya Allah …

Terima kasih untuk keluangan waktunya, terima kasih sudah dizinkan untuk berbagi. Mudah –mudahan kisah ini bisa menjadi pelajaran buat semua orang agar lebih banyak bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan dan harapannya tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang kuperbuat. Terima kasih dan terima kasih.
Salam..

Sumber gambar

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments