Post Terakhir

Pertolongan Allah Ada Dimana-mana (2)

Bismillaahirrahmaanirrahiim …

Selamat berpagi hari dengan segala rutinitas yang dikerjakan. Semoga keberkahan kepada kita semua atas segala aktivitas yang kita kerjakan tuk mendapat ridho-Nya. Aamiin…

Pagi ini, saya masih ingin bercerita dengan hal yang sama, tentang pertolongan Allah. Teringat dengan Q.S. Muhammad : 7 “Barangsiapa yang menolong agama Allah. Allah akan meneguhkanmu.” Percaya dengan kekuatan dan janji Allah yang satu ini. Kalau kita mau menolong agama Allah, sesuatu yang berhubungan sama Allah, aktivitas-aktivitas untuk menegakkan syariat Allah, mendahulukan perintah Allah, setelahnya Allah akan membantu urusan kita, apapun itu cepat atau lambat. Nah, kalau cerita yang satu ini hampir sama ceritanya seperti yang sebelumnya, tentang Senja.

Mara adalah alumni dari salah satu PTN di Banten. Dulu, saat ia masih menjadi mahasiwa tingkat akhir, ia pernah mengalami hal yang sama seperti Senja. Yah, harusnya cerita Mara ini yang pertama aku ceritakan, tetapi tidak apa-apa selama masih dalam untuk kebaikan maka sampaikanlah.

Saat itu Mara masih tercatat sebagai mahasiswa aktif di PTN Banten. Tahun keempat, ia segera menyelesaikan tugas akhirnya pada jurusan PGSD. Tak terlalu lama baginya untuk menyelesaikannya, hanya empat bulan ia mampu merampungkannya. Mara, yang setiap harinya pergi pulang Tangerang-Serang, menghabiskan waktunya dalam perjalanan. Perjalanan yang membutuhkan waktu 2 jam setiap sekali berangkat. Hari itu adalah hari di mana jadwal Mara untuk bimbingan. Untuk bisa sampai ke lokasi, dari rumah Mara mengendarai motor yang kemudian dititipkan di penitipan motor sekitar Kebon Nanas. Kemudian, Mara akan menaiki bus tujuan Serang. Di dalam bus Mara duduk bersebelahan dengan seorang bapak. Tak ada percakapan dan tak ada sapaan. Seperti biasa, tak kenal maka diam lebih baik. Mau bicara apa nanti disangka sok kenal. Bukankah begitu aktivitas para penghuni bumi sibuk dengan dirinya sendiri tanpa peduli siapa yang di sampingnya? Peduli apa aku….

Sesaat kemudian, Mara mengecek isi tas yang ada pangkuannya. Sadar bahwa ia tidak membawa draft proposal yang akan dibimbingkannya. Panik luar biasa. Perjalanan sudah jauh tidak mungkin untuk kembali ke rumah. Cemas dan gelisah yang dirasakan oleh Mara. Bingung. Seketika Mara mulai muhasabah diri, apa yang sudah ia lakukan tadi pagi, sampai ia lupa untuk membawa draft proposal. Apa yang kamu rasakan ketika draft yang akan kau bimbingkan ke dosen tak terbawa, terlebih perjalanan sudah jauh dari tempat tinggal? Pasti ada perasaan gelisah juga cemas yang mendalam, seakan perjalanan akan menjadi sia-sia sebab apa yang menjadi tujuan tak dapat tercapai.

Perlahan, Mara mengingat semua yang sudah ia lakukan pagi ini di rumah. Tentu dari hal yangterkecil sekalipun. Memorinya mulai berputar ke masa tadi pagi. Pelan-pelan dan ia mulai menemukan titik kesalahannya. Mungkinkah? Apakah disebabkan oleh hal itu? Ya Rabbi, ampuni hamba… Lirihnya dalam hati Mara. Ia mulai menyesali perbuatannya tadi pagi yang begitu dzalim terhadap Ibunya. Yah, ada hal yang Mara lupakan terhadap hak Ibunya. Sebelum berangkat, Mara dimintai oleh Ibunya untuk menjemur pakaian. Entah lupa atau terburu-buru, Mara belum menjalankan amanah tersebut. Di dalam bus, Mara hanya bisa beritigfar memohon ampun kepada Allah atas perlakuan terhadap Ibunya. Terus dan terus meyalahi dirinya yang begitu dzalim kepada Ibunya.

Entah pertolongan Allah yang seperti apa, atau Allah telah mengampuninya, sesaat Mara kembali mengecek tasnya, ia menemukan draft proposal di dalam tasnya. Draft proposal yang memang untuk dibimbingkannya. Kebahagiaan yang luar biasa bagi Mara. Ia mengucap syukur kepada Allah atas pertolongannya. Bukan hanya itu saja, ia pun mendapat uang untuk dari seorang bapak yang ada disebelahnya untuk ongkos perjalanan. Masya Allah (gumamnya). Percakapan pun terjadi antara Mara dan Bapak tersebut.

Bagi Mara, saat kau kau dilimpahi kelupaan atas sesuatu barang-barangmu atau ada sebuah kejadian yang menimpamu, mungkin ada khilaf yang kita lakukan sebelumnya. Cobalah untuk berinstropeksi diri, bermuhasabah, barang kali ada alpa yang telah kita perbuat tanpa kita sadari hingga menjadi penyebab sesuatu itu menimpa kita. Kemudian, minta ampun pada Allah atas apa yang telah kita lakukan. Moga Allah mengampuni kita juga memaafkan kita dan semoga ada pertolongan Allah yang tak terduga dari sisi manapun. Wallahua’alam.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments