Post Terakhir

Pake Allah Ajalah


Outside Wall of Edirne, Eski Cami

Bismillahirohmanirohim.

Ketika senja menemani dosa yang melekat bagai permen karet yang susah dibuang. Wajah hitam buram, tak tampak sedikitpun cahaya dari diri ini dari manusia yang penuh dosa tak terhingga.

Hari itu aku berjalan ke salah satu toko buku yang tersbesar di daerahku. melangkah tanpa niat selain mencari buku tes potensi akademik yang mau tak mau harus kumiliki. Langkah pertama masuk, langsung saja mata ini tertuju pada ke salah satu rak yang isi nya buku Ust. Yusuf Mansur semua. MasyaAllah bagaimana tidak riang ini hati menemukan karya orang yang selama ini menjadi inspirasi dalam melangkah dijalanNya.

Seketika itu juga aku membeli salah satu bukunya Dahsyatnya Sholat Sunah. Mulai membaca mulai tertawa dan mulai malu dengan apa yang aku alami, karena tidak mampu mensyukuri dan memanfaatkan dengan baik apa yang telah Allah kasih. Perintah wajib saja yang di utamankan tapi sunahnya selalu kuanggap enteng. Masih teringat pesan dari murabbi “kita ini para kadaer Dakwah cobalah bedakan keunggulan ibadah kita dengan yang lain.”

Mulai ku renungi kenapa diri ini rasanya hambar setiap melangkah. Terkadang apa yang coba ingin disampaikan pada mereka, tak satu pun yang kuterapakan dalam kehidupan. Ah, entahlah rasanya ada yang mulai hilang dan menjauh pada diri ini. Allah nampaknya hadir dalam kehidupan namum tak ku gubris, apalagi setelah mendapatkan amanah baru sebagai guru bagi adik-adik mentoring Tak kunjung nampak cahaya dalam diri yang tetap senada dalam ucapan dan perilaku.

Rasanya berat sekali. namun aku selalu berusaha dan mencoba kembali pada Allah. sembari mendalami buku Ust. Yusuf Mansur, terus kucoba mendekatakan diri pada Allah. Sholat tepat waktu, sholat sunnah sebelum dan sesudah sholat wajib, menengadahkan diri ini disepertiga malam, membaca Al-Qur’an, sedekah di waktu lapang dan sempit. Mungkin dengan hal ini Allah akan memberikan hidayahnya. Yang harus aku sadari adalah hidayah itu wajib dijemput bukan di antar begitu saja oleh Allah.

November, 2015

Aku mengikuti salah satu interview di Palembang. Perasaan berkecamuk sampai aku berfikir dimana Allah. Ah, terlebih dariitu ternyata sepertiga malam yang sering aku lakukan tidakterjalani pada saat itu. Aku yakin inilah penyebab ketidaklancaran apa yang kuinginkan. Benar sekali ya kalo kita pake Allah, minta sama Allah semua akan mudah. Yang tidak mungkin jadi mungkin kalo pake kaca mata Allah. Kalimat itu terbersit di dalam hati. Azzam sudah kuat, hal tersebut tidak akan kuulangi lagi.

Terkadang terpikir bahwa ilmu sarjana pendidikan yang kumiliki ini tidak begitu teraplikasi disini. Harus menjadi yang lebih baik di masa depan bersama Allah, dan harus berubah untuk merubah nasib. Berulang-ulang perasaam itu terngiang di dalam hati. Satu surat yang kuingat dari firman Allah, karena sesungguhnya :

“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang berusaha melakukan suatu perbuahan’(Q.S Ar-Rad 12:11).

Sekarang saatnya beraksi jangan kelamaan mikir, nanti tua sebeleum beraksi, teringat pesan ayah yang sering diulangnya. Bismillah mulai pake sayapnya manusia sholat wajib tepat waktu, sholat sunah sebelum dan sesudah sholat wajib, tahajud, yang alhamdulillah udah mulai istiqomah, bayar hutang-hutang puasa, ngaji one day one juz digenjot lagi, sedekah apapun kondisinya.

Setelah 2 bulan pertama, semua berjalan lancar dan akhirnya eksekusi untuk mengikuti tes Program Pacsarjana di salah satu kampus negeri di Indonesia. Aku memang bukan dari keluarga pejabat ataupun kaya raya, yang dipunya dan yakini sekarang hanya Alla. Uang untuk beli tiket harus bela-belain hutang ke sanak sauadara, buat makan di sana orang tua hanya membekali Rp. 100,000,- itu pun disedahkan. sisa beli tiketpun akhirnya disedehkan. Alhamdulillah ada kakak ipar yang memberikan uang Rp. 100,000. Mau tidka mau harus bisa bertahan dengan semua ini dan tetap bersyukur.

Sampai disana alhamdulilah aku diterima dengan baik. Tidak pernah terpikir semua kejadian dan alur ini. Rasanya kalo mengandalkan diri saja tidak akan sanggup untuk bisa ikut tes dan bayar di kampus ini, tapi semuanya tinggal dikembalikan sama Allah apa hasilnya nanti.

Ayat kursi 3 kali berulang-ulang kulantunkan,tak lupa pula bacaan surah Ar-Rahman sebelum memulai tes. Alhadmulilah dari 3 buku psikotes yang dipelajari satupun gak ada yang masuk disoal tes. Apes ya Allah. Perlahan mulai ragu jawaban ini benar atau salah, tangan ini begerak dengan sendirinya untuk mengisi jawaban tes lalu bel pun berbunyi tanda waktu ujian selesai.

Seusai tes, sahabat ku menanyakan bagaimana dengan tes tadi ? Alhamdulillah, aku pasrah aja sama Allah, jawabku singkat agak lesu.

Akhirnya pulang dan aku selalu berdoa meminta sama Allah untuk keputusan terbaik. Doa Ibu dan Ayah yang selalu menemani muda-mudahan menjadikan rezeki plus untuk diijabah sama Allah. Terkadang sampai bosan rasanya, adek-adek binaan dan teman-teman selalu aku minta doa terbaiknya.

18 April 2016

Ketika hari pengumuman, aku sedang didalam angkot mau ke pajak mengurusi file pajak salah satu guru yang cuti. Semoga dengan mendahulukan urusan orang lain maka urusan kita akan dipermudah insyaAllah.

Tiba-tiba Ibu sms

“Nanti kalo kamu lulus kita beli sepeda ya nak”, aku hanya terdim melihat sms ibu,

Akhirnya aku buka website pengumuman, setelah memasukkan kode masuk ada yang muncul “Selamat Rara Cempaka Putri Anda Diterima di Program Pascarajana S2 Pendidikan Non Formal.” MasyaAllah, rasanya seluruh badan lemes. Alhadmulillah ya Allah, sampe bercucuran air mata di dalam angkot dan mamang angkot pun heran. Sekilas bertanya apa yang terjadi, aku hanya tersenyum dan menghapus air mata yang mengalir pelan. KuasaNya memang tidak pernah terduga.

Harus tetap istiqomah dengan yang kujalani, sesungguhnya Allah yang punya segala dan mengatur segala sesuatu. Dia maha Rahim sang maha penyayang pada umat-umat nya, jika niat ini baik maka Allah akan memudahkan segala urusan kita.

Masalah lain mulai muncul untuk melunasi hutang tiket pesawat. Ya Allah, ternyata gaji honor ku tak seberapa, belum mencukupi untuk membayar hutang tiket itu. Bismillah, harus bawa Allah lagi, akhirnya ku sedakahkan semua gaji honor. uangnyapun habis hutang tidak terbayar. Keesokan harinya, salah seorang guru disekolah tempat ku mengajar menyodorkan amplop. Ini bonus dari kami para guru-guru buat Rara, ucapnya singkat sambil tersenyum. Ketika buka, Alhamdulillah puji syukur pada Allah yang tidak pernah meninggalkan hambanya. Uangnya cukup untuk bayar hutang dan semuanya karena campur tangan Allah.

Titik balik yang kesekian kalinya membuat keyakinanku semakin kuat untuk terus istiqomah. Jangan pernah sekalipun meninggalkan Allah. Karena, pada hakikatnya bukan Allah yang membutuhkan kita, tapi kita yang membutuhkan Allah, dan Dia punya cara tersendiri untuk terus mengingatkan hamba-hamba yang selalu taat di jalanNya.

 

Sumber foto: en.wikipedia.org

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments