Post Terakhir

Merangkul Kehilangan

sepatu

 

Suatu senja seorang pemuda hendak menumpang bus. Dihampirinya bus dengan agak berlari-lari kecil. Pada saat ia hendak naik dan menginjakkan kakinya ke pintu bus, tiba-tiba sepatunya yang sebelah kiri terlepas dan terjatuh ke jalan. Namun bus mulai bergerak dengan cepat, ia pun tak mungkin memungut sepatu yang terlepas tadi.

Lalu si pemuda ini dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah kanan dan melemparkannya keluar jendela. Seorang pemudi yang sedari tadi duduk dalam bus melihat kejadian itu, lalu memberanikan diri bertanya kepadanya, “Aku memperhatikan apa yang engkau lakukan. Mengapa engkau melemparkan sepatumu yang sebelah juga?”

Dengan sangat enteng, si pemuda ini menjawab, “Supaya yang menemukan sepatuku bisa memakainya!”

Pelajaran apa yang bisa diperoleh dari sepenggal cerita di atas dalam memahami hidup? Jawaban sederhananya adalah jangan terlalu mempertahankan sesuatu hanya karena ingin memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain memilikinya. Bukankah di sepanjang hidup sudah sering merasakan kehilangan? Bahkan hingga nanti.

Menghadirkan kembali momen-momen membahagiakan yang pernah dirasakan, pasti akan membawa suasana yang positif dan gembira, dan merupakan cara mistis untuk menikmati surga. Karena menggunakan daya imajinasi untuk menciptakan kebahagiaan dalam diri merupakan sebentuk doa. Sebuah kehilangan memang pada awalnya tampak tidak adil dan menggelisahkan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif. Kalimat di atas tidak hanya saat kehilangan hal-hal buruk saja, karena terkadang kita juga harus rela kehilangan hal-hal baik.

Contoh sederhana, di PHK kehilangan pekerjaan yang sedang bagus-bagusnya, bisnis yang tengah naik tapi tiba-tiba harus gulung tikar karena beberapa hal, dan lain sebagainya. Maka apakah semua kehilangan tersebut dapat diartikan supaya bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual? Mereka yang sudah sampai di jalan itu, pasti menjawab iya.

Bukankah sepanjang usia, mata rantai “kehilangan sesuatu” dan “mendapatkan sesuatu” akan selalu terjadi? Seperti halnya si pemuda dalam cerita di atas, yang mengajarkan tentangkemampuan untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si pemuda tadi kehilangan sepatunya. Siapa yang tahu, peristiwa tersebut mengisyaratkan bahwa si pemuda itu bakal mendapatkan sepasang sepatu baru yang lebih baik? Kita tidak pernah tahu.

Ketika sepatu yang sebelah terjatuh, dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai jika terus dipakai. Maka dengan melemparkannya ke luar jendela, berharap orang lain yang membutuhkan bisa memakainya, tentu itu lebih baik. Bersikeras mempertahankan sesuatu kadang tidak membuat dunia ini menjadi lebih baik. Kehilangan, kesedihan, kegalauan bukanlah sesuatu yang buruk. Ada sebuah ungkapan bijak, “Setelah sekian lama dia menangis atas sesuatu, dan ketika itu sudah berlalu, kemudian dia menyesali kenapa dulu dia menangisi sesuatu itu.”

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.’ Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” –QS. Al-Baqarah: 155-157

Kawan-kawan, kehilangan bisa datang menghampiri siapa saja. Semua pernah merasakannya. Merasa kehilangan, karena adanya peristiwa yang tidak sesuai dengan harapan, keinginan, atau melesetnya target-target yang telah disusun. Hal-hal seperti ini memang bisa membuat kekecewaan di kemudian hari. Tapi sebenarnya kekecewaan itu bisa dihindari. Ini hanya soal mengatur niat saja. Niat saat hendak melakukan sesuatu. Contoh sederhana, ketika ingin memberikan sesuatu kepada seseorang, jika niat tersebut bertujuan agar bisa mendapatkan ucapan terima kasih, maka pasti akan kecewa kalau orang tersebut menganggap pemberian itu biasa-biasa saja dan tidak merasa perlu untuk mengucapkan terimakasih. Maka menjaga niat menjadi penting.

Dalam hidup, kehilangan adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Jangan ada susah yang berlebihan, juga jangan terlalu gembira. Tetap tersenyum dan terus memberikan senyuman termanis penuh rasa syukur, whatever will be, will be. Que sera, sera. Apapun yang akan terjadi, hadapi saja, Tuhan tidak kemana-mana.

Wallahu A’lam []

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments