Post Terakhir

Memaknai Kembali Arti Kemenangan

!

Summary

Sebuah tulisan yang dibuat pasca pemilu legislatif 2014 lalu. Semoga bermanfaat.

MEMAKNAI KEMBALI ARTI KEMENANGAN

Selagi masih suasana ‘pertarungan’ mau menulis tentang kemenangan .. sekedar pengingat diri saja. Sebenarnya apa yang ditulis pun hasil dari menyimak juga hehe..

Teringat, bahwa dalam beramal hendaknya diri senantiasa menjaga kelurusan niat pada tiga hal: sebelum beramal, saat beramal dan sesudah beramal.

Kelurusan niat dalam beramal dijaga agar tetap lurus, yang dilakukan hanya karenaNya dan semata agar amalan yang dilakukan terhitung di sisiNya.

Ibarat kerja di kantor, sudah kerja sedemikian rupa tapi ternyata tak dianggap sama sekali hasil pekerjaannya, seperti bolos kantor saja gitu. Nyesek banget kan rasanya? Iya.

Ya begitulah, bila niat karenaNya itu tak ada dalam aktifitas yang dilakukan, bagai anai-anai yang beterbangan belaka.. Terhempas begitu saja.Tak ada jejak yg terlihat sebagai bukti. Sungguh merugilah diri ini bila terjadi kondisi itu. Na’udzubillahimindzaalik.

Untuk itu, ustadz Yusuf Mansur bilang di twitter melalui akun pribadinya, bahwa di dalam melakukan apapun diri harus hadirkan visi ukhrawi pula (tak sekedar visi duniawi)..

Sebab hidup memang tak hanya di dunia ini saja, tapi juga setelah diri wafat nanti. Itu sebabnya di dunia ini, setiap diri dituntut menyiapkan dua macam perbekalan, yakni: perbekalan untuk bertahan hidup dalam kondisi yang [ter]baik di dunia ini dan akhirat kelak. Tugas diri hanyalah berusaha sebaik mungkin, sementara hasil itu adalah urusanNya semata.

Lalu bagaimana dengan rangkaian agenda yang telah dan akan dilaksanakan? Disinilah, diri perlu sejenak beranjak ke spot evaluasi dan refleksi diri (baca: muhasabah) untuk memantau kelurusan niat diri..

Alhamdulillaah, Pileg (Pemilu Legislatif untuk memilih anggota dewan di DPR, DPRD dan DD) sudah terlaksana 9 April’14 kemarin serta Pilpres (Pemilihan umum untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden RI) pada 9 Juli 2014, kini masih menanti hasil penghitungan suara resminya yang akan keluar dari KPU pada 22 Juli 2014 nanti, seraya terus mengawal amanah suara agar tidak ada yang hilang ataupun berganti dengan suara yang lainnya oleh para oknum yang tak bertanggung jawab.

Bagi para penjaga kertas suara (C1), walau pada Pileg kemarin sedikit banyak diwarnai aksi kerdil ‘mafia’ suara, semoga pada Pilpres kali ini hal itu sudah tak ada atau setidaknya dapat sangat diminimalisir..

Walau di antara para penjaga suara yang sebenarnya termasuk bagian dari amanah rakyat pula sehingga harus serius menjaga hasil perhitungan di tingkat akar, agar tetap sama sampai di pucuknya (baca: pusat penghitungan suara tingkat nasional).

Namanya ‘pertarungan’ tentu ada pihak yang nantinya berada di posisi sebagai pihak yang kalah dan ada juga yang berdiri di pihak yang menang. Tak ada yang menolak bila menang, namun ada juga yang tak siap kalah.

Bagi siapapun yang mengikuti parade demokrasi ini hendaknya memiliki jiwa ksatria. Tak jumawa bila juara, tak garang serta tak frustasi bila kalah..

Perlu diingatkan agar terpatri kuat dalam tiap diri pemilih, pendukung caleg/capres serta caleg/capres itu sendiri tentang perlunya menghadirkan sikap dan jiwa ksatria ini.

Kemenangan sejatinya diinginkan tidak hanya saat Pileg/Pilpres saja, akan tetapi juga dalam 1x24jam tentunya setiap diri ingin menutup harinya dengan kemenangan.

Kemenangan bagi orang yg benar dalam keimanannya (shiddiq; menjaga kebenaran, kejujuran, dan harga diri) adalah kemenangan yang disadari dan diyakini hadir karena Allah yang memberikannya, sehingga tak ada asumsi atau pun pandangan bahwa kemenangan itu dari hasil jerih payah diri dan atau manusia lain.

Kemenangan yang kita inginkan adalah kemenangan yang diridhaiNya, yang mengandung berkahNya. Itu sebabnya segala bentuk kecurangan dan kezaliman selayaknya dihindari.

Jika memang shiddiq, maka tidak ada kata lelah dan atau pun menyesal atas segala usaha keras, jerih payah yang diberikan.

Tidak terpengaruh dengan hasil quick count & real count. Seorang yg shiddiq akan tetap bersemangat apapun hasilnya. Kalau pun merasa sedih, itu manusiawi, namun tak akan berlama-lama berada dalam kondisi itu, ia akan segera bangkit bersemangat kembali. Hati pun tetap tenang, karna yakin cara yang telah ditempuhnya benar sebagaimana perintahNya.

Jika setelah berjuang sedemikian rupa untuk memenangkan pertarungan merasa lelah hingga akhirnya berhenti karna merasa sia-sia atas semua usahanya maka itu artinya ada yang salah, ada yang perlu diinstropeksi atasnya. Cek kembali akan kelurusan niat dan langkah-langkah yang telah dan akan ditempuh.

Tidak ada kata lelah dan sia-sia dalam berbuat kebajikan dan kebaikan. Tiada kebaikan melainkan pasti dibalas dgn kebaikan pula. Yakinlah.

Balasan baik itu ada di dunia dan akhirat. Janganlah terburu-buru dalam beribadah. Sungguh Allah mencintai kebaikan dan hanya menerima yang baik.

Sangat amat mudah bagi Allah untuk memenangkan segala perkara baik. Namun, Allah ingin melihat para hambaNya akan setiap qadha&qadr-Nya; Apakah diri ridha atau tidak, apakah diri bersyukur atau tidak atas semua ketentuan/ketetapan yang diberikanNya.

Bentuk kemenangan itu pun beragam. Disambut baik seruan-seruan yg diberikan itu pun termasuk ke dalam bentuk kemenangan. Disambut baik artinya diterima dengan baik, diikuti-diamalkan dan juga disiarkan ulang segala seruan yang diterimanya. Bentuk lainnya dari kemenangan, misal:

Kemenangan dzahir maksudnya keberhasilan yang diakui banyak orang secara legal dan atau pun formal. Juga termasuk kemenangan di atas kertas.

Ada lagi yang menyebutkan kemenangan sebelum menang, misal pada kelurusan langkah yang ditempuh dalam menjemput kemenangan. Hal ini dikatakan sebagai kemenangan karena di saat peluang menang melalui pintu kecurangan dan kezaliman terbuka lebar namun diri memilih menghindarinya hingga tetap memilih bertahan dalam kebenaran dan mempertahankan kebenaran maka sejatinya kita sudah menang.

Meski banyak akhirnya yang menjauh, tak menyukai atau resiko pahit lainnya, namun kita sudah menang karena telah berlaku ksatria, menghindari kebatilan.

Bila berani memasuki pintu kecurangan dan pintu kezaliman itu sama artinya diri bersekutu dengan pengkhianatan. Maukah disebut pengkhianat?

Sehingga Penting pada akhirnya agar seluruh peserta Pilpres (beserta partai yang mengikutinya) memaknai kembali kemenangan yang ada.

Moga Pilpres pada 9 Juli 2014 kali ini dapat menghasilkan pemenang dan kemenangan yg sejatinya, agar membawa kebaikan dan keberkahan yang banyak bagi bangsa ini.

Renungan:

Kemenangan sejatinya adalah kemenangan yang terletak pada berbagai proses yang ditempuh untuk mewujudkan kemenangan tersebut, bukan pada hasil semata. Sebab disanalah letak sesungguhnya perjuangan dan pengujian kekuatan diri. Apakah diri kuat mempertahankan kemuliaan langkah ataukah justru terpedaya oleh kelihaian nafsu dan langkah syaithan.

Menjadi pemenang di dunia bisa menjadi sangat mudah untuk banyak hal, namun apakah hanya sebatas itu yang diinginkan? Tak berkeinginankah untuk menjadi pemenang dalam skala dunia dan akhiratNya?

(2) Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments