Post Terakhir

Masih “Dream Book”

REMAJA SUKSES

Sukses?

Lulus sekolah langsung kuliah, kerja di kantoran, berdasi, sepatu mengkilat, tangan bergadget, mobil mentereng, rumah bertingkat, tabungan full, kebutuhan terpenuhi baik primer atau sekunder, apa pun bisa diraih. Itulah yang terbesit di otak manakala kata “sukses” terngiang di telinga para remaja. Ya, memori otak kita langsung tertuju pada kemewahan dan kekayaan material yang menghiasi indahnya kesuksesan. Sukses, siapa yang tidak mau? Sukses, siapa yang berani menolak? Semua orang pasti ingin sukses. Semua orang mustahil tidak ingin sukses.

Orang tua mana yang tidak mau anaknya sukses? Orang tua mana yang tidak peduli kesuksesan masa depan anaknya? Jawabannya jelas, tidak ada! Apalagi jika kesuksesan itu bisa didapatkan ketika usia masih terbilang cukup muda. Orang tua mana yang tidak bangga anaknya yang masih muda namun sudah sukses dan berkecukupan. Tersenyum lebar rasanya melihat anak yang seperti itu.

Sebagian orang tua terkadang terlalu sempit mengartikan kata sukses terhadap anak-anaknya, yaitu dengan membayangkan setelah mereka lulus SMA kemudian kuliah di perguruan tinggi ternama, bergelar akademik, kerja di kantor, gaji per bulan yang tinggi, tunjangan perusahaan, fasilitas mewah dan lain sebagainya. Yang menjadi ironis adalah hal seperti itu sudah ditanamkan sejak kecil. Memang, sejatinya orang tua akan berupaya keras untuk mendidik anaknya menjadi sukses, karena menyangkut masa depan mereka juga tentunya. Namun, jika doktrin seperti itu terus digaungkan, imbasnya adalah ketika beranjak remaja atau dewasa mereka akan berangan-angan seperti itu juga. Kenyamanan bekerja di suatu perusahaan atau kantor membuat mereka seakan-akan terlena dalam mimpinya. Padahal untuk menuju ke arah sana tidaklah mudah, lebih-lebih di zaman seperti sekarang, masih banyak remaja yang menganggur, tidak bekerja dengan alasan tidak mendapat lowongan pekerjaan di perusahaan.

Ketika para remaja mendefinisikan kesuksesan itu sebagai mapan secara materi, lalu mengapa mereka tidak mencari ‘pintu’ lain untuk meraih semua itu. Mengapa mereka tidak membelokkan ‘arah’ yang berbeda untuk menggapai kesuksesan. Mengapa kita para remaja tidak mencari ‘alternatif’ lain untuk sukses. Yaitu dengan “berwirausaha”.

Berwirausaha adalah pilihan yang menantang, karena menyangkut niat dan kemauan yang kuat. Kesuksesan yang jika didefinisikan mapan secara materi justru akan lebih cepat kita dapat dengan jalan berwirausaha. Dari sekian banyak remaja, hanya beberapa saja yang ingin berwirausaha ketika mereka ditanya apa cita-citanya. Artinya, doktrin yang selama ini menjalar di benak para remaja adalah bekerja untuk orang lain di tempat yang nyaman dan menerima hasilnya setiap bulan. Ada juga yang beralasan bahwa dirinya merasa tidak mampu menjadi wirausahawan, tidak ada modal, minder, merasa paling rendah, bahkan merasa malu bila bertemu dengan teman jika kedapatan dirinya berjualan.

Harusnya, para remaja menunjukkan jati dirinya yang tangguh. Kita tunjukkan kepada diri kita dan orang lain bahwa kita juga bisa kok sukses dan mapan dengan berwirausaha, dengan berdagang, berniaga, berbisnis atau apa pun namanya tanpa kita harus terus menjadi kuli atau buruh.

Pengangguran yang semakin hari semakin membludak merupakan sebuah cerminan bahwa remaja masa kini enggan ikut serta secara aktif mencari solusi permasalahan baik untuk dirinya sendiri, orang lain bahkan bagi negara. Padahal, dengan menjadi wirausahawan, remaja tidak hanya mendapat manfaat untuk dirinya, melainkan juga dapat memberi manfaat terhadap orang lain bahkan negara.

Dengan berwirausaha, para remaja secara langsung telah berpartisipasi secara aktif mengurangi jumlah pengangguran yang kian membuat negara semakin kalang kabut. Tidak perlu ada lagi istilah “jam kerja” yang dimulai dari pukul 08.00 pagi hingga 17.00 petang atau sebaliknya. Tidak perlu ada lagi remaja yang menunggu tanggal muda atau tanggal tua untuk memenuhi isi dompet atau sekedar mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

Kita para remaja tidak perlu lagi dengan istilah gengsi dalam berwirausaha. Tidak perlu lagi malu kepada orang lain hanya karena kita menjadi seorang pedagang. Gengsi atau malu hanya akan membebani fikiran kemudian memunculkan sikap pemalas dalam diri kita. Padahal, remaja pemalas merupakan aib bagi dirinya, orang tuanya bahkan warga sekitar. Bagaimana tidak? Orang lain berlalu lalang giat bekerja mulai pagi hingga malam, mereka yang pemalas malah asyik nongkrong bersama para pemalas yang lain tidak melakukan apa-apa, ngobrol tidak tentu arah, sering berkumpul bersama hanya duduk-duduk, terlalu sering begadang, siang jadi malam, malam malah dijadikan siang, apakah hal seperti itu yang hari ini remaja inginkan? Justru hal-hal yang seperti itulah paling sering membuat kehidupan para remaja menjadi suram, salah pergaulan dan akhirnya terjerat dengan narkoba dan seks bebas. Bagaimana akan sukses jika remajanya saja bersikap seperti itu? Bagaimana kesuksesan akan menghampiri kita jika sikap malas enggan mencari uang hanya karena alasan “susah cari kerja” atau “tidak ada lowongan kerja” atau “perusahaan tidak berminat”.

Setiap individu berhak memilih apa yang akan ia mau entah itu bekerja atau berwirausaha. Keduanya masih lebih baik dari pada menjadi pengangguran. Namun, langkah berwirausaha merupakan suatu keputusan yang sangat tepat. Ketika banyak remaja terlalu lama menunggu lowongan pekerjaan di berbagai instansi atau perusahaan, mengapa kita tidak ciptakan saja sebuah pekerjaan minimal untuk diri kita sendiri. Di tengah penantian menunggu pekerjaan, mengapa tidak gunakan saja untuk hal yang menghasilkan pundi-pundi uang. Untuk itu, berwirausaha adalah langkah yang tepat. Menjadi wirausahawan adalah sebuah tantangan yang harus ditaklukkan. Remaja harus bersikap berani (wira) dan mau bekerja keras (usaha).

Tantangan berwirausaha merupakan tantangan yang penuh dengan ketidak jelasan. Ya, tidak jelas. Tidak jelas apa yang mau dijadikan usaha, tidak jelas berapa pendapatan yang akan didapat, tidak jelas berapa keuntungan setiap bulannya, tidak jelas apakah untung atau rugi kita berbisnis, tidak jelas di pasar mana produk kita akan laris terjual, tidak jelas perputaran uangnya, tidak jelas nasib bisnis ke depannya seperti apa, semuanya tidak jelas. Inilah yang membuat para remaja di sekeliling kita enggan melawan tantangan arus kehidupan. Karena pandangan “tidak jelas” itulah maka timbul rasa takut dan cemas untuk mulai berwirausaha. Takut tidak laris, takut bangkrut, takut malu, takut resiko, dan sebagainya. Akhirnya mereka lebih memilih di jalur aman dengan melamar ke berbagai perusahaan, ingin menjadi karyawan.

Padahal, cara pandang ketidak jelasaan itulah yang keliru. Jika para remaja kita berani menantang badai, maka ketidak jelasan itu akan berbuah kejelasan. Jelas berwirausaha itu memang harus memutar otak, jelas berbisnis itu wajib sabar, tekun, ulet, pantang menyerah, jelas wirausahawan itu butuh kreatifitas tinggi untuk mendongkrak kualitas, jelas bisnis itu harus berbeda inovasinya agar variatif, jelas berbisnis itu penuh dengan resiko.

Mental para remaja adalah mental juara, mental baja, mental darah muda. Pemberani, tangguh, kuat adalah sekian dari mental-mental remaja. Mengapa remaja kita harus takut berwirausaha? Dimana mentalitas penantang remaja kita? Butuh tantangan untuk menguji kualitas diri kita. Remaja, dewasa, orang tua atau siapa pun dia membutuhkan tantangan untuk menempa jiwa. Karena tantangan dapat memunculkan sebuah keberanian.

Maka mulai detik ini, marilah para remaja berani berwirausaha, jadilah wirausahawan, jadilah pelaku bisnis, saatnya kita ciptakan pekerjaan, bukan mencari pekerjaan. Saatnya kita bisa sukses di usia muda. Saatnya kita menjadi remaja yang sukses. Sukses dengan berwirausaha.

Selamat menjadi wirausaha!