Post Terakhir

Mama

Mama

Suatu saat aku akan mulai memahami dengan kesungguhan hati. Prasangka hati sering kali dilanda rasa kalang kabut. Dosa besar tak henti menyapa hari-hariku. Seberapa berat menghargai seorang ibu. Sudah merasa hebatkah diri ini? Hingga persoalan kecil menjadi penyebab kegelisahan hati.

Mencoba lakukan pengabdianku setiap hari, setiap pagi, bahkan hampir sering kali ini menjadi hal yang rutin bagiku. Mengantar jemput ibu dengan tujuannya mengais rezeki. Meski bentuk pengabdian ini belum lah seberapa. Namun aku mau mencobanya.

Hingga seketika Allah menguji kesabaranku sebagai anak. Saat tiba di mana waktunya menjemput ibu yang ku perkirakan telah selesai berbelanja, ibu berbelanja bahan masakan yang nantinya akan diolah menjadi makanan siap saji.

Entah memang tak saling memahami wajah masing-masing dari kita, mungkin juga sudah saling melewati. Atau saja pikiran anak dan ibu yang kurang fokus. Padahal di tempat biasa, kita pasti bertemu. Mungkin ini sedang tidak biasa. Dan maklum saja, karena komunikasi kita sempat sedikit repot karena yang sebelumnya ibu pernah menggunakan ponselnya, kini sudah tidak lagi. Alasannya, Karena boros? Ya sudah, saya cukup memaklumi alasan ibu yang seperti itu.

Sampai sudah setengah jam lamanya aku menunggu kedatangan ibu yang seperti biasa ia akan berjalan menghampiriku sambil membawa barang belanjaannya itu. Memang jarak dari warung menuju pasar kira-kira ada sekitar 250 Meter. Terkadang aku akan menunggunya hanya sebentar, kadang juga aku akan menunggunya dengan waktu yang lumayan lama. Tapi tidak selama saat itu juga.

Sedang tidak seperti biasa mungkin. Menunggu dengan keadaan seperti itu. Perasaan tidak jelas sudah mulai bermunculan, emosi sudah mulai terasa, hingga rasa kesal terjadi.

Dan ku putuskan untuk memutar balikkan keadaan sepeda motor ku, lalu kulakukan perjalanan menuju warung. Alhasil, ibu memang sudah berada lebih dahulu di warung.

Sontak, emosi labilku muncul tak tertahan. Ku tanyakan, dari yang kenapa, dimana, bagaimana, kapan? Tanpa terkesan sabar. Ibu pun juga mengutarakan kemarahannya kepadaku karena tak bertemu denganku. Hingga ibu harus pulang menuju warung dan ditempuh dengan jalan kaki sambil memikul beban berat belanjaan miliknya.

Sampai, cukup hebat pertikaian diantara kita.

Dan akhirnya ku tinggalkan ibuku, tanpa pamit dan pergi dengan hati yang dipenuhi rasa amarah. Aku kembali ke rumah dan bergantian dengan bapak.

Di tengah perjalanan pun aku menangis sejadi-jadinya, kesal, marah, sedih, menyesal karena sudah berani memarahi ibu hingga berujung pertikaian yang cukup serius. Hanya karena persoalan yang sebetulnya itu tak perlu untuk dipermasalahkan. Mungkin saja karena rasa ego yang jauh lebih berhasil menguasai diri. Tiba dirumah pun aku masih tetap menangis yang terkesan ditahan. Supaya tak sedikit pun yang mengetahu, bahwa aku sedang menangis. Langsung saja aku masuk kedalam kamar sembari tetap dalam keadaan menangis. Tak sadar, berjam – jam aku menangis. Membuatku terlarut juga dalam tidur.

Kejadian aneh, dan tak seperti biasa. Saat tidur, bahkan aku seperti sedang tidur setengah sadar. Entah mengapa? Bibir ini spontanitas mengucapkan kata Istighfar berkali-kali, berulang kali, entah seberapa banyak. Dari yang sebelum tidur hati penuh dengan amarah, dan perasaan yang tak jelas. Sampai setengah tidur yang setengah sadar itu membuat bibirku mengucapkan kata Istighfar tanpa ku rencanakan. Didalam tidur pula, sosok ibu hadir kedalam mimpi. Sebenarnya tidur di pagi hari itu tidak dianjurkan, ini karena keadaan sedang tidak enak hati, membuatku tak sadar larut dalam tidur. Didalam mimpi, ibu kembali menghadirkan hubungan yang baik denganku.

Saat aku terbangun, yang ku sayangkan itu hanya sekadar mimpi. Tapi perasaanku saat bagun tidur justru jauh lebih tenang, tentram, sejuk. Inikah Kuasa Nya, mengingatkan ku secara langsung lewat tidur ku.

Memang tak perlu melewati masa 2 hari, hubunganku dengan ibu kembali membaik. Tak sampai 1 hari, ibu ternyata sudah memaafkan ku dengan segala kesalahan ku. Ibu juga tetap setia dengan kepeduliannya membungkuskan sup buah untukku berbuka puasa.

Ramadhan ini, aku menemukan pelajaran terbaik bagi kehidupan ku. Meski bagaimana pun keadaan orang tua, terutama ibu. Orang tua, tetaplah orang yang paling harus kita cintai. Dengan mencintai kita pun dapat memahami arti dari menghargai keadaannya.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments