Post Terakhir

Kusandarkan Kehidupan di Pelukan Ar Rahman

kaus-kaki-akhwat-muslimah-daun-gugur

Oleh: Arinda Shafa

 

Apa hakikat hidup ini selain menjalani lakon di atas pentas, dan Allah lah Sang Sutradara? Setiap manusia yang terlahir di dunia, telah mendapat perannya masing-masing. Begitu juga seorang Aisyah–diriku sendiri—yang harus kuperankan dengan sebaik-baiknya.

Lahir di keluarga dan lingkungan agamis adalah keberuntungan yang tak bisa terbeli. Masa kecilku bersama orangtua, saudara kandung, bahkan keluarga besar begitu harmonis. Aku tumbuh sebagai gadis kecil yang cantik, sehat, bahagia, dalam kasih sayang keluarga. Akupun ditempa menjadi pribadi mandiri sejak kecil.

Menginjak masa remaja, aku telah menuntut ilmu di tanah rantau. Akupun belajar banyak dari pengalaman demi pengalaman, manis bahkan pahitnya. Aku yakin, pengalaman akan mendewasakan dan mengajariku kesabaran. Kesulitan demi kesulitan kuhadap sendiri meski dengan leleh air mata di penghujung malam. Kucatat baik-baik pesan orangtuaku bahwa apapun kondisiku, baik senang, menang, kalah, susah ataupun gelisah, Allah lah Pemilik Kerajaan. Pemilik Al Asmaul Husna. Maka berdoalah dengan menyebut nama-Nya dengan harap, takut, dan cinta, juga rindu hingga arsy-Nya bergetar.

Dan tahun demi tahun seakan terbang berlesatan hingga mendapatiku dalam usia menginjak dewasa. Aku telah meniti karir yang cemerlang di sebuah perusahaan bonafid di pulau Dewata. Bila ditilik dari ukuran dunia, hidupku terbilang mapan. Seorang perempuan muda, cantik, menarik, dan punya uang, serupa bunga yang menarik kumbang-kumbang untuk datang. Tak hanya satu dua tapi rombongan. Aku kebingungan untuk memilih, hingga Allah menunjukkan padaku sebuah cara untuk ‘menguji’ kesetiaan mereka yang ingin datang meminang.

Ya, lewat sakit itu.

Sakit di bagian perut yang tak lagi bisa kutahan. Aku sampai berkali-kali pingsan hingga sempat dirawat di ICCU selama beberapa hari. Kesadaranku timbul tenggelam. Aku seakan berdiri di tebing antara kehidupan dan kematian. Sayup kudengar suara lelaki yang menyembut asma-Nya berkali-kali. Ya Rahman… ya rahim… ya qadir… ya sami’… sembuhkan Aisy ya Allah. Ada pula suara dokter yang seperti menyebut kata ‘operasi, kista, rahim’ yang membuatku luruh. Kelopak mataku terkatup rapat. Bibirku kelu untuk membalas doa lirih itu. Hanya hati yang mampu menggumam pedih. Yaa Allah, siapapun lelaki yang mau menerima kondisiku yang seperti ini, maka akan kuterima dia sebagai suamiku.

Ketika aku sadar, lelaki itu tersenyum dan menggumam hamdalah berkali-kali. Dialah kak Ahmad yang sejak kecil dulu selalu membersamaiku dan menjagaku. Yang saat remaja dulu, dia menaruh perhatian lebih terhadapku hingga sekarang. Dialah kak Ahmad, yang memberitahuku dengan sangat hati-hati bahwa abahku telah tiada hari itu. Dan dialah sepupuku sendiri.

Ya Allah… ya qowiyu…yan matinu… kuatkan dan kokohkan aku…air mataku tumpah membasahi seprai putih rumah sakit.

Beberapa minggu kemudian setelah aku benar-benar pulih, walimah sederhanapun digelar. Dadaku sesak mengingat abah yang tak bisa menyaksikan sumpah langit yang diikrarkan kak Ahmad. Namun, aku mencoba ikhlas akan segala ketetapan-Nya. Aku tahu, abah telah tersenyum di alam sana menyaksikan pernikahan penuh barakah ini. Hari itu, status sepupu kami berganti menjadi suami istri. Bagi keluarga besar kami, pernikahan antar saudara  sepupu bukan hal yang aneh sebab kakek nenek hingga buyut kami pun melakukannya.

Fabiayyi aala’i robbikuma tukadzibaan… maka nikmat dari Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Hari-hari pernikahan yang indah kami jalani bersama. Meski kami telah mengenal satu sama lain sejak kecil, ternyata dalam hubungan pernikahan sangat berbeda. Kami menyadari bahwa selalu ada hal yang baru dalam tiap lembaran hari yang Allah anugerahkan. Waktu, usia, pengalaman telah mengubah karakter dan sikap kami oleh karenanya pernikahan merupakan pembelajaran seumur hidup.

Sudah delapan tahun menikah, kami masih saja berdua. Ah, betapa sepinya rumah tangga tanpa kehadiran anak. Doa-doa yang senantiasa kami langitkan, ternyata belum dikabulkan-Nya. Kami terus bersabar dan berupaya menempuh iktiar yang dirodhoi-Nya. Terkadang, dalam kondisi seperti ini, rasa bersalah meretas dalam hatiku. Mungkin paska operasi kista dulu, ada masalah dengan rahimku. Tapi, kak Ahmad selalu meyakinkanku bahwa dia tak pernah menyesal menikahiku. Satu hal yang membuatku kaget adalah saat kak Ahmad memintaku resign dari kantor.

“Mungkin kamu terlalu lelah, Aisy. Kalau kamu resign, kamu bisa punya banyak waktu untuk istirahat dan mempersiapkan kehamilan,” pintanya.

Setelah istiharah selama beberapa hari, aku mantap menuruti saran suamiku untuk resign. Aku ingin menjadi istri salihah, yang menurut pada suami demi ridho-Nya meski aku harus memutar otak untuk merintis bisnis baru. Alhamdulillah, berkat patuh pada suami, rezeki malah mengalir deras seperti hujan bulan januari. Allah yaa basithu. Rezeki yang benar-benar tak disangka arah datangnya. Namun, tahun berganti sejak aku resign, rezeki berupa anak tak kunjung menghampiri kami.

Segala sesuatu terjadi atas sepengetahuan-Nya meski hanya selembar daun yang jatuh dari pohon. Tak ada sesuatu yang bernama ‘kebetulan’ kecuali Allah telah menuliskannya. Begitu pula dalam episode rumah tangga kami. Mungkin aku ditakdirkan Allah seperti bunda Aisyah, istri Rasulullah, yang sampai akhir hayatnya tak pernah merasakan mengandung dan melahirkan keturunan. Tapi itu, hanya lakon kehidupan. Kamipun memutuskan untuk mengadopsi seorang bayi milik saudaraku—tentu dengan izinnya. Dan tak lama, tangis bayi perempuan menyemarakkan rumah kecil kami. Karena agak repot mengurus bayi seorang diri, akupun meminta sepupu jauhku untuk tinggal bersama kami. Namanya Sarah.

Sarah berusia 3 tahun di bawahku dan belum menikah. Dia kucarikan pekerjaan lewat link di perusahaan tempatku bekerja dulu. Sepulang kerja, dia membantuku mengasuh bayiku. Aku tak menyadari bahwa memasukkan perempuan lain dalam rumah tangga, sama saja dengan memberi kesempatan suami untuk melihat ‘barang baru’. Tapi sikapku selalu khusnudzon bahkan selalu santai saja saat aku keluar rumah bersama bayiku dan meninggalkan kak Ahmad dan Sarah dirumah berdua. Kami semua saudara. Dan seorang sepupu perempuan takkan sampai hati merebut suami saudaranya, bukan?

Hingga ujian itu menamparku dengan telak.

Kak Ahmad sakit parah. Kakinya seperti melepuh sehingga dia tak bisa berjalan. Berbagai upaya tindakan medis maupun pengobatan alternatif telah ditempuh tapi hasilnya nihil. Suamiku melenguh kesakitan. Penyakit kak Ahmad aneh sekali. Aku menangis ketika membersihkan luka-lukanya sembari menyebut asma-Nya seperti yang dia lakukan dulu ketika aku terbaring koma. Ya rahman… ya rahim… ya lathifu…ya bari’u…cabut sakit suamiku ya Allah. Akupun tak henti-hentinya memohon agar Allah memulihkan suamiku seperti sedia kala.

“Itulah azab Allah bagi seorang pezina, Aisy,” suara Kak Afifa menggema.

“Apa maksudmu? Kau tuduh kakakmu pezina kak?”

“Kau tahu, Ahmad telah berzina dengan Sarah. Kemana saja kau, Aisy!” aku seperti tersambar petir di siang bolong.

Dan sesampainya di rumah, kudengar pengakuan itu langsung dari bibir Kak Ahmad. Aku seakan tak percaya dengan pendengaranku sendiri. Ya, suamiku telah mengkhianati rumah tangga yang sepuluh tahun kami bangun. Akankah itu terjadi karena aku tak bisa memberinya keturunan? Dan pada saat yang sama, Sarah datang hendak menggantikan posisiku?

Aku bersimpuh di atas sajadah. Menumpah-ruahkan tangis yang tak berkesudah. Hatiku terlampau lara. Jangankan berteriak, bicara sepatah katapun aku tak kuasa. Hanya Allah tempat bersandar paling nyaman, saat hati bergejolak sakit, perih, ngilu, bahkan berdarah-darah. Mendekat pada-Nya adalah obat paling ampuh sebab Dia lah Sang Penyembuh.

Ya Rahman… ya rahim…Yang Maha Pengasih dan Penyayang, sayangilah aku

Ya Ghaffar… ampuni aku yang lalai menjaga suami yang telah Kau titipkan padaku

Ya Fattahu… bukalah pintu-pintu rahmat-Mu agar aku mampu bertahan dalam badai

Ya Karim… sebab kemuliaan hanya pantas dilekatkan pada nama-Mu

Ya Syahidu… saksikanlah bahwa aku lemah tanpa pertolongan-Mu

Ya qowiyu… ya matinu… kuat dan kokohkan aku untuk tetap tegar di jalan-Mu

Ya ra’ufu… belas kasihanilah aku, ya Rabb semesta alam

Ya shaburu… berikan aku kesabaran tanpa batas

Ya muqollibal quluub tsabit qolbi ‘ala diinik… Wahai Dzat Pembolak-Balik Hati, tetapkan aku dalam agama-Mu… aamiin.

Betapa dahsyat al asmaul husna. Hatikupun menjadi lebih tenang usai menyebut nama-nama agung-Nya. Akupun mendapat petunjuk dari-Nya dari kemelut rumah tangga ini yaitu dengan menjalankan haji dan umrah ke tanah suci bersama ummiku. Di depan Kakbah, aku kembali berdoa dengan asma-Nya agar aku benar-benar ikhlas dan ridho akan ketetapan-Nya. Tak mudah move on dan move up, kecuali atas kasih sayang-Nya apalagi saat kudengar kak Ahmad menikah dengan Sarah yang telah hamil, padahal status kami belum bercerai.

Sepulangku dari Tanah Suci, aku telah siap bercerai dengan kak Ahmad dan siap menata kehidupan baruku bersama anak angkatku. Tak ada dendam, meski tiap kali bertemu kak Ahmad dan Sarah, hatiku kembali tersayat. Ya, lukaku seumpama kayu yang tertancap ribuan paku. Meski paku-paku itu telah tercabut, tapi bekasnya takkan pernah hilang sampai kapanpun.

Aku memang bukan perempuan sempurna, namun aku berusaha untuk menyempurnakan amalanku di hadapan-Nya. Aamiin.

*Kisah nyata teman penulis

Sumber gambar

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments