Post Terakhir

Kisah di Balik Secangkir Teh

Ada yang suka menikmati secangkir teh sambil bersantai? Saya rasa di Indonesia ini cukup banyak penggemar minuman teh, termasuk saya. Dalam postingan saya kali ini, tentang kisah dibalik secangkir teh. Kisah yang saya alami sendiri,yang mudah-mudahan ada “secuil” pelajaran yang bisa kita ambil. Apalagi jika anda seorang ayah.

Secangkir teh misterius keluar dari dapur, menuju ruang keluarga. Terlihat tangan kekar gemetar memeganginya. Ya, itulah tangan ayah saya. Sesekali sendok yang beliau bawa dibentur-benturkan dengan cangkir tersebut,hingga terdengar suara ting ting ting”. Mendengar suara itu saya dan beberapa sodara kandung saya berebut untuk mendapatkannya. Entah apa yang membuat kami selalu berebut secangkir teh yang ayah kami buat.” Mungkinkah karena rasa teh nya enak?” Semua juga akan bilang kalau minuman teh itu enak. Lalu apa yang membuat kami selalu tertarik untuk minum teh buatan ayah kami? Karena di dalam secangkir teh itu ada cinta dan kasih sayang beliau. Ini terdengar sederhana sebenarnya, dan banyak yang berpendapat “hallaaaah,omong kosong,namanya minuman teh ya enak”. Silahkan anda berpendapat. Itu bebas, ini Indonesia kok, belum ada hukuman mati juga untuk anda yang suka berkomentar,hehe. Mungkin jika anda tidak mengalaminya sendiri anda tidak akan percaya. Tapi tidak ada salahnya mencoba kan???

Anda seorang ayah yang memiliki finansial freedom. Ya katakanlah punya banyak uang. Apapun yang anak anda minta selalu anda turuti. Tapi anda hanya menuruti kesenangan sementara anak anda. Anak anda menginginkan mainan , anda bisa belikan, tapi itu sebatas mainan. Ketika anak anda dewasa, dia akan melupakan mainannya. Berbeda dengan sentuhan-sentuhan cinta anda sebagai ayah. Sebagai contoh dalam kisah tadi, ayah saya memang hanya memberikan secangkir teh, tapi penyajian beliau berbeda. Beliau membawa secangkir teh tersebut dengan diiringi canda tawa dan gurauan guna mencari perhatian anak-anaknya. Meskipun tubuh beliau penuh peluh dan kotor karena kerja kerasnya hari itu. Dan itu, membekas dalam ingatan saya sebagai anaknya, sampai sekarang, sampai ketika saya beranjak dewasa.

Dan masih banyak contoh cara meluapkan cinta kasih seorang ayah kepada anak-anaknya yang akan terlalu panjang jika saya ceritakan semua dalam postingan kali ini. Tapi jika anda seorang ayah, tak ada salahnya anda mencoba. Misalkan anda pulang malam,saya tahu anda lelah memang, tapi coba keluarkan sedikit tenaga anda kembali untuk memijit lembut anak anda hingga mereka tertidur. Itu sangat berat dan melelahkan memang,tapi semua akan kembali pada anda. Ada sebagian ayah yang takut melakukannya dengan alasan “nanti anak saya jadi ketagihan dan selalu minta dipijit ayahnya ketika akan tidur”. Justru itu pertanda anda berhasil meluapkan cinta kasih anda pada anak, yang berimbas pada anak anda yang semakin mencintai anda. Tapi semua masih bisa terkontrol kok, jadi anda tak perlu takut kalau anak anda akan “ketagihan”. Lihat saja anak-anak yang ketagihan naik “odong-odong” misalnya, apakah ketika beranjak remaja anak itu masih mau naik odong-odong? Tentu tidak kan? Nah, anda seorang ayah yang memiliki anak yang belum beranjak remaja, inilah saatnya. Inilah saatnya anda membentuk hubungan anda dengan anak anda, agar ketika mereka dewasa tetap dalam kontrol kita sebagai orang tua.

Ada sedikit ganjalan pada rangkaian kata (kita sebagai orang tua) yah, kenapa saya gunakan kata “kita” sedangkan saya sendiri belum menjadi orang tua. Ah sudahlah, kelak juga insyaAlloh saya akan menjadi orang tua juga. Hehehe … terimakasih sudah menyempatkan diri membaca postingan ini ya

by : jumatawan.wordpress.com

(1) Comment

  1. Vico

    Assalamu'alaikum Saya tidak tau seberapa besar ibu saya mencintai saya. Mungkin saja cinta saya yang jauh lebih besar. Saya anak ke 7 dari 10 bersaudara. Saya yang paling lama hidup bersama dengan ibu. Ibu memikirkan 10 anak, dan saya memikirkan 1 ibu. Mudah sekali memberikan penilaian. Membaca tulisan saudara, mengingatkan saya saat saya masih belum berusia 12 tahun. Hampir tiap malam saya diminta mijitin kaki ibu, juga meng'idak-idak kaki atau punggung bapak (memijat dengan kaki). Seandainya saya bisa melilhat masa depan, tentunya akan saya sempatkan tiap malam dengan melakukan itu hingga saya dewasa. Saya hanya ingat waktu kecil saya ogah-ogahan saat diminta. Padahal tidak sampai 1 jam. Cuma setengah jam. Dan sesal itu muncul sekarang... apalagi ketika mengingat saya pulang seminggu sekali dari Surabaya ke Malang, di saat saya berbaring, ibu saya memaksa memijit kaki saya yg dingin. Kini berubah lagi penilaian saya. Lebih besar cintanya daripada cinta saya. Salam, Mampir ke tulisan saya ya Kak http://kalamuna.yusufmansur.com/kebesaran-allah/

Leave a Reply to Vico Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments