Post Terakhir

Kebesaran Allah

Allah Maha Besar...AllahuAkbar

Assalamu’alaikum Waroh Matullohi Wabarokatuh

Semoga cerita yang saya bagi di sini, bisa memberi inspirasi dan semangat lebih untuk saudara-saudara saya yang kini sedang dalam musibah.  Bahwasanya, hanya Allah saja tempat kita berlari bukan yang lain.

Lebih dari 100 hari ibunda saya telah berpulang.  Mau tidak mau, hanya ikhlas yang harus saya tumbuhkan.  Yakin tidak yakin, saya harus tetap yakin bahwa saya masih bisa berbakti kepada almarhum ibu dengan cara apapun sesuka saya.  Mau tidak mau saya harus menerima bahwa saya tidak lagi bisa mengusap air matanya, dalam mimpi sekalipun.  Suka tidak suka, hanya air mata yang saya dapatkan setiap kali mengingatnya.  Saat ini hanyalah sabar yang saya miliki agar kuat bertahan, saat ini dan esok hari.

Entah kenapa, baru kali ini saya bisa benar-benar merasakan sedang berdoa.  Saya baru sadar bahwa sebelum-sebelumnya, saya hanya melantunkan kalimat-kalimat Allah karena sudah menjadi rutinitas sebagai bacaan setelah sholat.  Katakanlah, hanya mengucapkan hafalan doa setelah sholat.  Doa rutin yang saya ucapkan di antaranya adalah sholawat, doa orang tua, doa selamat dunia akhirat dan doa sapu jagad.  Bahkan inilah yang saya ucapkan dalam hati ketika itu:

Ya Allah, aku tidak bisa memaksaMu untuk mengabulkan semua permintaanku.  Semua terserah padaMu ya Allah.  Aku hanya minta sayangilah kedua orang tuaku seperti mereka begitu mengasihi aku sedari kecil.  Allah memberi aku rejeki sedikit atau banyak, terserah Allah.  InsyaAllah, Engkau tahu kebutuhanku Ya Allah.   Amin.

Dulu saya sangat jarang sekali berdoa dengan begitu memohon.  Saya tidak bisa dengan mudah mencurahkan hati  dengan detail setiap permasalahan yang saya alami.  Saya lebih banyak diam atau menangis.  Saya percaya dalam tangisan saya, Allah mengerti apa yang saya tangisi.  Saya tidak pernah meminta Allah melakukan A, B apalagi C.  Semua terserah Allah.  Bisa dikatakan saya tidak pernah minta apa-apa kecuali doa wajib yang rutin saya ucapkan setiap selesai sholat.

Namun semua berubah begitu saja.  Tanpa saya sadari, mulai banyak yang saya kemukakan di luar doa-doa wajib yang terekam selama ini.  Sejak ibu saya meninggal, saya tidak bisa menahan air mata di setiap sholat saya.  Saya sangat takut bila ibu saya mendapat siksa kubur.  Saya tidak mau itu terjadi.  Saya bertekad apapun akan saya lakukan agar Allah mengasihani ibu saya dan mengampini dosanya.  Hari-haripun saya isi dengan banyak browsing ke sana kemari mencari bacaan islami yang berhubungan dengan bakti anak kepada orang tua.  Dari browsing itu, yang tertancap di otak saya untuk berbakti kepada orang tua adalah di antaranya mengirim bacaan Alfatihah dan Surat Yasiin, sering mengunjungi makamnya, dan bersedekah atas namanya.

Saya mulai membiasakan diri untuk membaca Surat Yasiin.  Alhamdulillah istiqomah hingga hari yang ke 40.  Sebenarnya saya tidak bisa membaca Alqur’an dengan cepat.  Itu karena saya jarang sekali membaca Al Qur’an.  Hingga saat ini saya membaca ayat demi ayatpun selalu pelan-pelan.  Dalam pikiran saya yang terpenting adalah benar tajwid-nya.  Allahu Akbar.  Karena saya baca terus menerus dan berulang-ulang, akhirnya saya bisa membaca surat Yasiin dengan lancar tidak terbata-bata.  Ternyata justru dengan membaca pelan, saya semakin bisa merasakan rasa yang tidak bisa saya gambarkan merasuk di seluruh tubuh.  Saya sering tidak bisa menahan nafas dan berkali-kali menelan ludah hingga saya menangis.  Dalam tangisan itu saya merasa begitu kecil dan tak berdaya.  Ya Allah, Alhamdulillah dengan merasakan itu, justru perlahan membuat hati saya terasa tenang dan damai.

Saya tidak tahu dan tidak sadar betapa agungnya Surat Yasiin.  Yang saya tahu, Surat Yasiin adalah bacaan wajib untuk mengirim doa untuk orang yang meninggal agar diampuni dosanya.  Hanya itu.  Hingga saya mendengarkan tausiyah dari Ustad Yusuf Mansur.  Saya terkesima melihat Ustad Yusuf Mansur begitu sukanya dengan Surat Yasiin.

Ustadz Yusuf Mansur senang sekali membaca surat Yasin karena bertaburannya Asma Allah. Tidak semua orang mampu menyebut Asma Allah oleh karenanya mulailah kita membaca surat Yasin, dengan begitu kita sedang membaca bertaburan nama Asma Allah SWT

Saya menyuruh kawan-kawan untuk membaca surat Yasin terus menurus jangan sampe putus, mulailah latihan baca selama 3 hari perturut-turut lalu 7, 14, 21,40 hari, bahkan 100 hari. Nantinya kita akan terbiasa membaca surat Yasin setiap hari.

(http://risalahhati.yusufmansur.com/baca-yasin/)

Ketika kita membaca surat Yasiin, apapun yang menjadi hajat dan masalahnya, Insya Allah, Allah akan memberikan rahmatnya kepada kita, karena Allah punya segalanya. Yang belum punya anak keturunan, belum punya jodoh, punya utang banyak, pengen rizkinya juga banyak, pengen masalahnya selesai dan hajatnya dikabulkan oleh Allah, pengen badannya sehat dan pengen kehinaannya Allah ganti dengan kemuliaan, maka bacalah surat Yasiin ini.

Berdoalah setelah membaca maupun mendengarkan surat Yasiin, doa apa saja yang menjadi hajat dan masalah kita, doa bareng-bareng. Kemudian terusin baca Yasiinny setiap hari, sebelum atau sesudah salat fardhu, jangan sampai lewat, lebih bagus lagi sambil dihafalkan.

(http://risalahhati.yusufmansur.com/murrotal-surat-yasiin/)

Sungguh saya sadar, saya adalah orang yang rugi.  Rugi karena saya tidak berpengetahuan.  Seandainya saja saya mengetahui ilmu yang bermanfaat ini sejak kecil.  Alhamdulillah Allah memberi kesempatan saya untuk lebih dekat dengan Allah dan mengetahui keagungannya.  Melalui tayangan risalah hati Ustad Yusuf Mansur, dibukakan mata hati saya.

Setelah rutin membaca Surat Yasiin selama 40 hari, beruntunglah saya mendapat kesempatan bertemu ibu di dalam mimpi.  Di sebuah taman yang teduh dengan bunga yang berwarna-warni, terdengar suara air mengalir tanpa saya melihatnya.  Saya duduk bersama ibu. Kami saling memandang dan bercakap-cakap dari hati-hati ke hati.  Teringat jelas mulut kami tidak bergerak sama sekali.  Tak bisa saya gambarkan betapa berbinarnya raut wajah kami.  Saya hanya bisa merasakan bahwa usia kami seperti sebaya.  Dalam mimpi yang indah itu, Ibu yang saya jumpai bukan seperti yang terakhir saya temui.  Tidak ada guratan usia 60an di wajahnya.  Subkhanallah, saat terbangun dari mimpi itu mata saya sudah basah oleh air mata.

Setelah saya tahu satu keajaiban Surat Yasiin, saya tidak mau mengalah pada rasa kantuk.  Saya berkata sendiri “Saya masih bisa membuat ibu bahagia dengan mengiriminya bacaan Surat Yasiin.  Sayapun memohon kepada Allah untuk mengampuni kepamrihan saya karena membaca Surat Yasiin dengan niat minta balasan Allah agar diijinkan bertemu ibu lagi dan lagi.  Karna hanya ini yang bisa mengobati kerinduan saya pada Ibu.

***

Dua bulan yang lalu teman kantor saya mengingatkan bahwa esok adalah bulan Rajab.  Dia berniat berpuasa Rajab, Sya’ban hingga Ramadhan.  Teringat jelas saat itu betapa saya sangat bersemangat.  Saya seperti memiliki harapan besar agar tidak terlalu khawatir dengan almarhum ibu.  Ya Allah apapun akan saya lakukan agar Engkau ridho dan selalu mengasihi ibu saya di alam kubur.  Sungguh pedih dan tak sanggup membayangkan ibu saya sendirian.  InsyaAllah saya mampu berpuasa berturut-turut.  Hanya itu satu-satunya yang ada di pikiran saya agar saya bisa tenang dan tidak terus meratapi kepergian ibu.

Di hari ke 7 saya berpuasa Rajab, saya terbangun tengah malam.  Ada rasa gatal tiba-tiba di sekujur leher dan dada.  Saya yakin tempat tidur saya bersih.  Sebelum mandi pun saya InsyaAllah sudah berwudlu.  Tidak ada juga dengungan nyamuk.  Saya tidak kuat menahan gatalnya.  Setiap garukan meninggalkan warna merah.  Kemudian saya mengambil lotion caladine dan mengoleskannya.  Terasa panas.  Saya berusaha menahan diri untuk tidak menggaruknya.  Sayapun tertidur kembali.

Keesokan harinya, di setiap pulang kerja saya menambahkan obat dettol di air bak mandi.  Siapa tahu saya alergi air. Setelah mandi saya memakai bedak dan lotion anti gatal.  Namun tengah malam saya terbangun lagi karena gatal itu datang lagi.  Keadaan itu terjadi hingga hari ke 10 di bulan Rajab.  Malam itu, antara sadar tidak sadar saya menggaruk ketiak.  Ada yang aneh.  Saya tidak mau berpikir buruk.  Saya memaksa untuk tidur lagi.

Adzan subuh kemudian membangunkan saya.  Gatal itu masih ada dan makin menyiksa.  Saya memberanikan diri untuk meraba ketiak lagi.  Semoga hanya mimpi semalam.  Perasaan saya tidak enak.  Saya langsung sedih saat itu.

Keesokan harinya, saya segerakan ke rumah sakit di Gresik.  Saya minta ijin untuk di jam istirahat.  Sayangnya saat itu sudah siang dan dokter tidak bisa menerima pasien lagi.  Saya makin galau.  Waktu itu saya berpikir saya tahu kondisi saya.  Pasti sakit saya kambuh lagi meskipun di lain tempat.  Pasti nanti saya diminta untuk USG dan operasi.  Tapi siapa tahu kali ini saya salah.  Semoga saja.  Takut dan penasaranpun bercampur jadi satu.  Saya putuskan untuk pulang ke Malang di sore harinya.

Pagi itu sampailah saya di rumah sakit tempat saya dulu dirawat.  Lagi-lagi saya tidak beruntung.  Saya tidak bisa bertemu dengan dokter spesialis bedah.  Saya bertemu dengan dokter umum.  Saya ceritakan kondisi saya.  Seperti yang saya duga, dokter mendiagnosa saya lymphoma.  Untuk memastikannya saya diminta untuk menemui dokter bedah yang dinas nanti malam.

Saya kecewa.  Sungguh sangat kecewa.  Ya Allah kenapa ini harus ditimpakan pada saya?  Saya baru saja menata hati karena kepergian ibu.  Hidup tanpa ibu sungguh cobaan terbesar dalam hidup saya.  Saya sudah kehilangan satu-satunya semangat dan alasan saya kuat berjuang menjalani hidup.  Satu-satunya orang yang menggenggam tangan saya saat jatuh dan bangkit. Satu-satunya orang yang ingin saya bahagiakan dengan bangga.  Satu-satunya orang yang selalu ada di hati saat suka dan sedih.  Baru saja saya belajar ikhlas dan sabar, kini Allah memberi cobaan lagi.

Antara marah, sedih dan kecewa dengan yang menimpa saya hari itu, saya duduk di depan apotik menunggu obat.

Buat apa puasa.  Allah tidak butuh saya puasa.  Percuma!”  Aku kecewa pada Allah.  Apakah masih kurang kesedihanku.  Apakah Allah tidak melihat usahaku untuk mengobati kesedihan yang tersisa.  Aku sendiri di dunia ini, kenapa masih juga tidak kasihan denganku.  Aku jarang sekali meminta ini dan itu.  Aku sudah berusaha bersemangat lagi mengisi hari dengan membuat orang lain senang.  Bermanfaat untuk orang lain.  Membantu kesusahan orang yang membutuhkan.  Tidakkah Allah melihatku.  Cukuplah dengan iba kepadaku.  Aku sudah tidak memiliki nafsu duniawi lagi.  Saat ke mall, aku tidak lagi merasa ceria melihat baju-baju yang bagus.  Sepatu dan tas bermerk sudah tak ingin kumiliki.  Rasa itu sudah hilang.  Hilang sejak kepergian ibu.  Yang tersisa hanya ingin iklas dan percaya bahwa ibu baik-baik saja di alam kubur.  Itu saja kebahagianku.

Sepulang dari rumah sakit, saya kembali ke Surabaya.  Saya memutuskan tidak melanjutkan pemeriksaan.  Saya tidak mau mencari kepastian lagi karna saya yakin akan mengarah ke solusi operasi dan kemo.  Dalam perjalanan saya mencari lagi informasi tentang pengobatan lymphoma mesin pencari google.  Banyak sekali yang mengupasnya.  Ada yang menyampaikan berbahaya dan ada yang menyampaikan tidak berbahaya namun hanya mengganggu aktivitas.  Saya makin galau.  Saya tidak mau memikirkannya lagi.

***

Malam itu Menjelang tidur, antara marah dan sedih timbul pergolakan di hati saya.

Ibu pasti menungguku membacakan surat Yasiin.  Ibuk aku takut.  Aku sendirian dan aku takut.  Allah tidak kasihan denganku.  Air mata saya semakin deras.  Entah kenapa 100% saya ingin tetap membaca Surat Yasiin.  Mungkin karena sudah terbiasa tidak melewatkannya.  Dan ternyata saya tidak bisa berlama-lama marah kepada Allah.

Selesai membaca Surat Yasiin, saya minum obat pereda gatal dari dokter agar saya bisa tidur nyenyak.  Tiba-tiba saya teringat kapsul jinten hitam yang saya berikan untuk ibu sebelum meninggal.  Saya memaksa ibu untuk minum sebagai pengurang rasa linu yang sering dirasakannya.  Di hari ibu meninggal, saya memeriksa tas beliau.  Ternyata ibu membawa pemberian saya hingga saat-saat terakhirnya.  Segera saya mengambilnya satu kapsul dan meminumnya.  Entah kenapa saya ingin membuka kemasan kapsul itu.  Saya mengoleskannya cairannya di ketiak dan dada.  Dengan berpasrah diri dan menangis saya mengoleskannya pelan di ketiak dan dada sembari membaca sholawat 7 kali.  Semua terserah Allah.  Bila Allah tidak ridho saya sembuh, saya memohon agar Allah mengganti kesedihan ini bisa menjadi ikhlas.

Malam demi malam, saya melakukan hal yang sama.  Membaca Surat Yasiin dan mengoleskan kapsul jinten hitam di benjolan di ketiak.  Saya mulai lupa dan tidak pernah lagi memikirkan benjolan yang ada.  Hingga suatu subuh di akhir bulan Rajab, saya tidak sengaja meraba ketiak saya.  Subkhanallah… percaya tidak percaya saya tidak lagi menemukannya.  Saya mengira itu mimpi tadi malam.  Setelah sholat subuh, saya pastikan lagi dengan memeriksanya.  Alhamdulillah tidak ada.  Bahkan rasa gatal juga sudah tidak lagi saya rasakan.  Saya percaya saya sudah sembuh.  Saya bertekad untuk meyakinkan diri bahwa saya sembuh.  Semua sudah saya pasrahkan kepada Allah.

Saya begitu terharu, bahagia dan bahkan sangat bahagia.   Saya menangis dalam sujud syukur.  Subkhanallah, syukron Ya Allah…

Hari itu juga saya pulang ke Malang dan mengunjungi makan ibu saya.  Betapa bahagianya saya saat itu.  Meskipun saya tidak bisa menatap ibu, tidak bisa mencium tangannya, tidak bisa membalas peluknya, saya mencurahkan kerinduan dan kebahagian yang saya rasakan.  Langkah saya begitu ringan saat itu.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakan yang kamu dustakan  فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Saya merasa beruntung diberi kesempatan untuk bisa melewati cobaan yang Allah timpakan.  Saya menyesal telah berperasangka buruk kepada Allah.  Bahkan saya telah menyangsikan bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.  Semoga dari apa yang saya alami semua membuat kita semakin yakin akan kebesaran Allah.

 

Wassalamu’alaikum Waroh Matullahi Wabarokatuh

Sumber gambar

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments