Post Terakhir

Kasih Sayang Calgub

Dalam sebuah riwayat Khalifah Umar bin Khaththab ra ingin mengangkat seorang gubernur untuk sebuah wilayah. Calon Gubernur (Calgub) itu pun diminta Khalifah Umar untuk menghadap.

 

Calgub itu pun menemui Khalifah Umar. Dia datang bersama putranya yang masih kecil. Melihat kehadiran seorang anak kecil, Umar pun memanggilnya, memeluk dan menciumnya.

 

Melihat pemandangan itu, Calgub merasa heran. “Wahai Amirul Mukminin, engkau memeluk dan mencium putraku?”

 

“Ya. Kenapa?” tanya Umar keheranan.

 

“Saya sendiri tidak pernah melakukan hal itu,” aku Calgub

 

“Engkau tidak pernah memeluk dan mencium putramu sendiri?”

 

“Iya,” jawabnya singkat

 

“Kalo demikian, engkau tidak layak menjadi gubernur,” jelas Umar

 

Relatif mudah dipahami, mengapa Umar mengambil sikap seperti itu. Seorang gubernur bertanggung jawab atas kondisi rakyatnya. Apakah sarana pendidikan, kesehatan, pekerjaan, sandang, pangan dan papan untuk rakyatnya sudah dapat terpenuhi?

 

Untuk mengetahui kondisi rakyat secara real, secara pasti, lihat dengan mata kepala sendiri, seorang gubernur perlu untuk turun langsung ke lapangan. Perlu ada kepedulian, rasa kasih sayang dan empati dari seorang gubernur terhadap rakyatnya.

 

Khalifah Umar pun telah mencontohkannya. Dalam salah satu karya Aidh Al-Qarniy, diceritakan bahwa khalifah Umar pernah ikut serta berkemah di lokasi pengungsian; yaitu tempat mengungsinya para korban bencana.

 

Jadi apa yang dikatakan Umar bahwa dia adalah orang pertama yang merasakan lapar dan dia adalah orang terakhir yang merasakan kenyang, benar adanya.

 

Kalo tidak ada rasa peduli, kasih sayang atau empati, tentu seorang gubernur enggan untuk turun langsung ke lapangan. Walau bukan terhadap darah daging sendiri, seorang gubernur harus mempunyai rasa kasih sayang terhadap rakyatnya. Lalu bagaimana jadinya jika seorang Calgub tidak memperlihatkan rasa kasih sayang terhadap buah hatinya sendiri? Lalu bagaimana dia dapat menyayangi rakyatnya?

 

Memilih gubernur, kepala negara, nampaknya tidak cukup dengan sekedar memperoleh suara terbanyak. Apa jadinya jika seorang gubernur lebih mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada rakyatnya?