Post Terakhir

Film dan Korelasi Dakwah Modern

           celluloid-film-shutterstock-130614

            Film adalah refleksi dari kehidupan zaman. Sebuah hiburan yang ditayangkan secara audio dan visual dalam menyingkap seluruh sisi kehidupan yang ada. Film yang baik seharusnya adalah film yang edukatif dan informatif. Edukatif artinya mendidik bagi mereka yang menontonya agar berbuat baik. Infomatif maksudnya memberi sebuah pengetahuan terhadap kebaikan.

            Semua haruslah berdampak positif. Sebab film sekarang ini adalah sebuah hiburan bagi masyarakat urban modern, dari kelas menengah hingga kelas atas, tidak terkecuali mereka yang muslim atau non-muslim. Apabila film itu mengandung unsur yang tidak baik seperti; perkelahian, peperangan, pembunuhan, pemerkosaan atau adegan-adegan erotis lainya, alhasil bagi mereka yang menonton akan berdampak pada cara pandang mereka terhadap dunia. Sebab telah dinyatakan diatas bahwa film adalah refleksi kehidupan zaman.

            Moral bangsa ini juga bergantung pada industri film. Bukan secara ekonomis apa yang dihasilkan melalui bisnis tersebut, melainkan kontent yang terkandung dalam sebuah film. Apakah film itu baik ditonton atau tidak.

            Hollywood tetaplah kiblat film dunia, dengan kejayaan dan ekspansi besar-besaran. Namun, Indonesia mulai bangkit dan berkarya dengan film-filmnya. Bukan film-film horor Indonesia yang sering tayang di bioskop-bioskop belakangan ini. Melainkan film yang bernafaskan Islam lah yang mendominasi pasar film lokal Indonesia.

            Beberapa tahun terakhir, perfilman di Indonesia marak dengan film bertemakan islam, seperti; Ayat-ayat cinta, Ketika cinta bertasbih, 99 cahaya di langit Eropa, Negeri 5 menara, Assalamualaikum Beijing, La-Tahzan, Surga yang tak dirindukan, dan yang terbaru, Aisyah. Fenomena ini menjadi suatu hal yang inovatif dalam dunia dakwah agama Islam. Sebuah film yang bersifat entertainment, namun dapat menjadi media penyebar nilai-nilai keislaman bagi mereka yang menonton.

            Dakwah agama adalah ajaran kebaikan. Pada zaman dahulu orang berdakwah di suatu tempat atau majelis. Dewasa ini, seluruh tempat bisa dijadikan sarana dakwah asalkan mempunyai massa. Di media sosial, di televisi, surat kabar harian, buku, dan juga film. Dalam hal ini adalah film layar lebar yang tayang di bioskop.

            Dengan film yang bertemakan Islam, para penonton secara tidak langsung telah diajarkan kebaikan. Dalam konteks keislaman, para penonton belajar asmaul husna. Ar Rahman yang maha pengasih, Ar Rahim maha penyayang, Ya Tawwaab yang maha penerima tobat, Al Ghafuur yang maha pengampun, Al Waduud yang maha mengasihi, Al Aziz yang maha perkasa, Ar Ra’uuf yang maha pengasuh.

            Saya ambil contoh dalam film Negeri 5 Menara yang menceritakan sekawanan pemuda yang mempunyai cita-cita yang tinggi. Mereka berusaha, belajar, berdoa, dan pada akhirnya mereka dapat menggapai cita-cita mereka. Secara tidak langsung, film tersebut membingkai sebuah ajaran apabila kita berusaha, belajar, dan berdoa, atas seizin Allah yang maha segalanya, semua dapat tercapai. Betapa Allah maha pengasih, maha penyayang, maha perkasa, hingga dapat mengabulkan impian pemuda tersebut.

            Film seperti itulah yang sudah seharusnya kita tonton. Tidak melulu film Hollywood yang lebih banyak menampilkan adegan yang erotis hingga perkelahian. Film juga dapat menjadi media dakwah untuk mengajak pemuda Indonesia ke arah yang lebih baik. Dan semoga kedepannya akan banyak anak muda yang menonton film bertemakan Islam, semoga kedepannya akan banyak sineas yang membuat film bertemakan Islam sebagai dakwah dan edukasi.

Sumber gambar

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments