Post Terakhir

Extraordinaryly Kemenangan-Hadiah dari Allah untuk orang yang beristiqomah

Extraordinaryly Kemenangan - Apa yang tidak mungkin dalam akal manusia, maka tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah Azza Wajalla

Extraordinarily Kemenangan

bigstocktrophy108730622_876511
KEKUATAN DREAM, PRAY, THE WINNER.

Assalamualaikum Wr.Wb
Sebuah cerita dari hamba Allah yang mengabdi sebagai guru di kabupaten Jombang. Saya adalah seorang wanita muslimah yang telah berusia mencapai 40 tahun, saya telah bersuami dan dikaruniai ketiga orang anak laki-laki yang masih kecil. Saya ingin berbagi cerita tentang realitas kehidupan saya dari masa ke masa. Sebuah perjuangan hidup yang dibangun dari nol. Alhamdulillahirobbilalamin, atas segala nikmat dan rizeki yang tak pernah terhenti dari-Nya membuat rasa ingin membagikan kepada sesama menderu-deru dalam dada. Entah harus memulai darimana saya berceritera, akan tetapi saya tidak akan bingung mengarang cerita nonsensical kepada hamba Allah yang membaca. Setiap jengkal yang terjadi dalam hidup saya, akan saya paparkan semua di sini.

Bersyukur sekali Allah telah memberikan sesosok ibu yang hatinya sangat kuat dan peduli terhadap kualitas kehidupan anaknya. Dulu ketika saya dilahirkan, saya adalah anak pertama yang keluar dari rahimnya tanpa didampingi seorang ayah. Iya, ibu saya waktu itu tidak bersuami dan saya dibesarkan seorang diri. Terima pesanan jahit dan membuat jajanan digelutinya agar bisa membiayai dan membahagiakan saya. Tak banyak uang yang dihasilkan, akan tetapi beliau sangat ulet dan hemat sehingga pakaian dan uang saku sekolah sebanding dengan teman saya yang hidupnya berkecukupan. Beliau memang sangat tidak mempedulikan dirinya sendiri, ibarat perumpamaan “biarlah aku telanjang, yang penting anakku tampak indah dengan pakaiannya”.

Lulus dari sekolah tingkat SLTA. Ibu saya menikah lagi dengan seorang pria yang ternyata ayah biologis saya. Saya berpikir, mengapa baru sekarang tanggungjawabnya? Baikkah beliau terhadap kami yang ditinggalkannya selama bertahun-tahun, menikah dengan wanita lain lagi dan kemudian pula menceraikannya?. Harapan kebaikan, kasih sayang dan mengalami peningkatan hidup ternyata hanya tinggal abu. Yang saya ingat saya hanya anak sebatang kara yang ditanggung hidupnya oleh nenek saya. Ibu saya dibawa pulang ke rumah asal ayah saya dan saya sering mendengar kabar tidak baik dari ibu. Hal yang membuat saya naik pitam dan merasa sangat sedih. Tapi bagaimanapun juga saya harus tetap mendoakan kebaikan ayah saya dan menghormatinya.

Lulus kuliah di salah satu universitas di Malang, saya mulai mengabdi menjadi seorang guru. Mungkin semua tahu bahwa gaji guru tak banyak, apalagi saya kost dan membiayai hidup sendiri. Saya memang sudah terbiasa hidup pas-pasan bahkan kurang , yang bisa saya lakukan hanya bermimpi berkehidupan yang lebih baik, memiliki rumah, harta yang cukup dan membahagikan orangtua kelak. Himpitan hidup dan cemooh orang lain akan segala ketidakmungkinan membuat hati saya terpukul, meratapi dalam hati “Ya Allah, ibu.. siapa yang menguatkan saya disini”, tapi dengan bergulirnya waktu, saya pun mampu melewatinya.

Suatu ketika saya dijodohkan oleh ayah saya dengan laki-laki yang notabenenya cukup mapan, ia adalah seorang angkatan TNI. Saya pun coba melayangkan surat kepada ayah saya, dalam isi surat tertera pernyataan bahwa saya tidak mau menikah dengannya dengan alasan karena saya memiliki kriteria tersendiri yakni seorang suami yang pengetahuan agamanya bagus. Pada usia 27 tahun, Alhamdulillah saya pun menikah dengan laki-laki pilihan saya dan tentu atas restu orangtua dengan meyakinkan mereka bahwa kehidupan saya akan jauh lebih baik bersama orang yang baik agamanya. Kami pun direstui, tak usah terlalu mengenalnya lama. Akhirnya kami memutuskan untuk segera menikah.

Awal menikah, kami berani sewa kontrakan dengan uang sumbangsih dari mertua. Ketika itu, suami saya masih mengajar agama di sekolah diniyyah dan saat saya melahirkan anak pertama, suami saya memutuskan untuk membuka usaha toko dan berhenti mengajar, saya tidak suka keputusannya karena itu dapat menurunkan derajatnya di mata orangtua saya, tapi ia tetap memaksa. Tak apalah yang penting suami ridho menjalankannya.

Tak beruntung, baru memulai usaha suami saya bangkrut. Amarah kepada suami, saya coba menahannya. Saya hanya bisa menangisi kerugian dari modal yang saya tabung untuk pembangunan rumah dan biaya anak. Setelah kejadian itu, saya dimaki habis-habisan oleh ayah saya, tuduhannya seakan menciptakan rasa penyesalan dalam hati atas terjadinya pernikahan berdasarkan pilihan sendiri. Ditambah lagi suami saya hanya ngaji kitab saja dan belum berkeinginan untuk bekerja lagi. Ya Allah, saya harus tetap menjaga keutuhan rumah tangga meski hasutan dari orangtua dan orang sekitar untuk segera memilih berpisah saja. Saya mencoba menguatkan hati dan meyakinkan diri bahwa ini bukan jalan terbaik. Hari-hari saya lalui meskipun mereka mengatai bahwa saya ini adalah kepala rumah tangga dan menjadi tulang punggung keluarga. “Ya Ghofur… sampai kapan akan seperti ini?” , sekian lama meminta pertolongan, kesabaran tak terbendung, dan keraguan-keraguan yang mulai bermunculan.

Di sela-sela kesibukan saya mengajar dan mengurus anak, saya sering mendengarkan tausiyah di Televisi. Setiap jumpa di berbagai waktu tayang, Al-ustadh selalu mengingatkan bahwa jangan meremehkan kekuatan doa. Doa yang disertai dengan ihktiar, bukan hanya ikhtiar dalam bekerja namun berihktiar pula dalam berdoa. Saran dari beliau adalah beristiqomah dan jangan putus untuk melakukannya. Dimulai dari sholat fardhu yang diiringi sholat sunnah qobliyah ba’diyah, sholat sunnah dhuha, tahajjud, dzikir, wirid, mengaji Al-Quran serta mengamalkan amalan-amalan sunnah. Kemudian setelahnya diakhiri dengan doa hajat yang tak henti-hentinya dipanjatkan kepada Allah SWT. Keistiqomahan itu saya ingat-ingat dan mulai saya terapkan pada diri saya secara penuh.

Atas Rahmat dan belaskasih dari-Nya, Alhamdulillah kini mimpi saya tercapai secara bertahap. Mungkin ini cara Tuhan, agar hamba-Nya tetap bisa merasakan nikmatnya berikhtiar sekaligus melatih kesabaran dan terjauhkan dari kesombongan. Kini mulailah berdiri rumah sepetak demi sepetak, rumah dari rakitan bambu hingga menjadi dinding tembok yang kokoh. Rasa sabar, rasa syukur dan terus menerus ikhtiar berdoa bersama sang suami, akhirnya rumah kami menjadi semakin nyaman untuk ditinggali dan Alhamdulillah tidak sampai disitu, kejutan yang tak terduga sama sekali dari Allah SWT yang membuat saya semakin terkagum-kagum, yakni saya bisa membahagiakan ibu dengan mewujudkan keinginannya untuk menyempurnakan rukum islam. Bahkan di tahun mendatang, ibu, saya dan juga suami bisa bersama-sama berangkat ke tanah suci. Allah selalu memberi jalan keluar, dengan gaji saya yang rasanya tak cukup untuk sebulan dan sampai sekarang suami pun belum bekerja, tapi rezeki seakan menghampiri terus-menerus dan datang dari sumber manapun yang tak terduga.

Sedikit tambahan, sebelum memiliki rumah, pernah juga dan bahkan sering sekali saya tidak punya uang sepeserpun untuk membeli makan besok, akibat menghabiskan uang untuk keperluan mencicil pembangunan rumah. Tapi siapa sangka, ada saja rezeki dari Allah untuk kami sekeluarga. Baik itu rizeki kiriman makanan dari tetangga yang akan mengadakan hajatan, kiriman dari mertua, undangan hajatan tiba-tiba, terkadang juga terselip uang di bawah taplak meja. Hal itu membuat saya membunuh rasa malas, semakin gigih untuk beristiqomah dan yakin atas kebesaran-Nya.

Semoga cerita pengalaman hidup saya menjadi inspirasi bagi hamba Allah yang membaca dan bagi kita semua. Percayalah akan kekuatan mimpi, doa, dan kemenangan di penghujung yang membuahkan hadiah-hadiah teristimewa dari Allah SWT.
Wassalamualaikum Rr.Wb

Sumber gambar

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments