Post Terakhir

Dunia atau Akhirat ? Bekerja atau Beribadah ?

Dunia atau Akhirat ? Bekerja atau Beribadah ?

Orang-shalih

Ketika banyak orang mengatakan, ” hidup itu harus imbang, jangan terlalu memikirkan akhirat, memikirkan ibadah, kalau tidak kuat malah akan menjadi beban yang sangat berat”.

Ketika beberapa orang yang lainNya bilang, ” hidup itu mikir yang pasti-pasti saja, toh kita masih hidup di dunia, urusan akhirat pikir belakangan, nikmati masa muda, taubat kalau sudah tua”.

Ketika tak jarang orang mengatakan, ” dunia akhirat itu imbang, fifty fifty, limapuluh limapuluh, 50:50″.

Coba bersama sama kita renungkan, sesungguhnya dunia dan akhirat itu bukanlah dua hal yang harus dipisahkan.

Setiap perbuatan (hal nyata di dunia) haruslah selalu diiringi dengan niat (hal abstrak bernilai akhirat), agar gabungan keduanya bernilai ibadah. Ibarat orang makan. Orang yang makan diiringi doa maka akan menjadi hal yang bernilai ibadah, ketika makan tanpa doa yang mengiringinya maka makan hanya sekedar makan saja.

Teringat dari tausiyah yang disampaikan oleh guru kami Dr. drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D. Bahwa Rosululloh shallalahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijanjikan kepastian surgapun masih tetap melaksanakan ibadah yang sangat jauh lebih berat, lebih nyata, dibandingkan ibadah-ibadah kita yang mungkin tak ada apa-apanya.

Tetapi seorang ahli ibadah bukanlah orang yang hanya mementingkan urusan akhiratnya tanpa peduli dengan urusan dunianya. Baginda Rosul tetap berkeluarga, memiliki istri, anak, bekerja, berternak, dan bermasyarakat. Lantas apa yang masih membuat kita untuk memisahkan antara urusan dunia dengan urusan akhirat ?

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, ” Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku” . (HR. Bukhari 5063 dan Muslim 1401).

Ketika mindset kita tentang kehidupan dunia atau akhirat, bekerja atau beribadah, masih menjadi hal yang terpisahkan, maka menurut saya ubah mindset kita bahwa : DUNIA + AKHIRAT = 100 %. Artinya keduanya saling mengiringi tanpa dapat dipisahkan.

Bahkan dari salah satu artikel yang saya baca menyebutkan bahwa, ” Jadikan siangmu untuk bekerja, dan malam mu untuk beriktikaf”. Hal tersebut merupakan bentuk dari kemurahan Alloh terhadap hambanya agar tetap mengoptimalkan ibadah di 10 hari terakhir bulan ramadhan, tanpa melupakan kewajiban-kewajiban dunia.

Semoga Alloh melapangkan hati, dan fikiran kita agar dapat menerima petunjuk dari Nya.

 

sumber foto: www.dakwahjomblo.com

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments