Post Terakhir

Dakwah Digital: Bukan Dakwah Biasa

Dakwah Digital: Bukan Dakwah Biasa

projector         

Apa yang kita rasakan dan akan lakukan ketika menghadiri tabligh akbar, penceramah yang tertulis di spanduk adalah Ustadz Yusuf Mansur (UYM), namun ternyata ceramahnya itu disampaikan melalui rekaman video yang disorotkan ke sebuah layar lebar? Ya .. persis seperti acara nonton bareng piala dunia Eropa.

         Marah? kecewa? Kesal? Lanjut bersungut-sungut memaki panitia karena merasa telah tertipu kemudian ngibrit pulang? Yes! kalau itu yang kita rasakan dan akan lakukan, maka kita termasuk kategori jamaah yang “manja”.

          Manja? iya manja! Sebagaimana yang UYM sampaikan berulang-ulang dalam video ceramahnya yang berjudul Dakwah Digital. Jamaah-jamaah manja ini tidak akan hadir kalau penceramahnya bukan penceramah terkenal. Adapun kalau hadir, mereka sangat mengandalkan kehadiran fisik dari sang penceramah.  “Maunya didatengin mulu” begitu bahasa UYM.

          Karakter lain dari para jamaah manja ini adalah senantiasa menjadikan alasan ketiadaan guru, ketiadaan waktu, ketiadaan sarana dan prasarana, tempat yang jauh, masih punya balita dan segudang alasan lain untuk menutupi kealpaan mereka dalam mencari ilmu.

          Saya dan suami mempunyai pengalaman menjadi penanggung jawab kegiatan majelis taklim di masjid tempat kami tinggal. Salah satu kegiatannya adalah pengajian rutin mingguan. Sesuai permintaan jamaah, kami diberi tanggung jawab untuk mendatangkan ustadz dan ustadzah yang berbeda dalam setiap pertemuannya. “Biar ga bosen!” begitu kata mereka. Hal ini berarti minimal ada empat orang penceramah berbeda yang harus kami hubungi setiap bulannya.

          Ya … mereka memang tidak meminta kami selalu mendatangkan penceramah kondang setiap minggunya. Namun tetap mensyaratkan penceramah yang bisa menyegarkan suasana, tidak membosankan, dan cara menyampaikan materinya menarik. Penceramah yang bisa mendagel sekaligus mengocok perut menjadi daya pikat tersendiri bagi jamaah. Kedalaman ilmu dari para penceramah malah jarang diperhatikan.

          Ala-ala Titi Dj dan Anang Hermansyah, audisi penceramah kami lakukan setahun sekali hehe… Kemudian kami membuat kontrak selama setahun dengan para penceramah tersebut.  Tantangan yang sering kami temui selama menyusun jadwal penceramah ini adalah padatnya jadwal dari penceramah-penceramah yang diminati jamaah. Kadang untuk mendatangkan satu penceramah saja kami harus mengantri setahun sebelumnya. Bayangkan saja, konon katanya, sang penceramah kondang ini bisa menerima undangan ceramah hingga mencapai 1000 undangan setiap bulannya, wooow…!  

          Ditambah lagi tantangan lain, walau kontrak sudah di teken, ada saja penceramah yang tiba-tiba membatalkan jadwal. Ya … ustadz/ustadzah juga kan manusia. Mereka bisa sakit atau tiba-tiba ada kegiatan lain yang lebih layak diprioritaskan. Jadilah kami yang kembali harus putar otak. Menghubungi penceramah lain yang sekiranya bisa menggantikan. Namun derita itu belumlah seberapa. Yang mengenaskan adalah ketika penceramah sudah siap tempur, tapi jamaahnya tidak ada satupun yang hadir.    

          Melalui dakwah digital, kendala-kendala tersebut bisa diatasi. Mengingat dakwah digital ini adalah dakwah yang tidak lagi mengandalkan kehadiran raga. Dakwah yang tidak lagi terbatasi oleh batasan kontinental. Tidak hanya bisa mendaki gunung lewati lembah, tapi bisa menaiki angin kemudian menyebrangi lautan samudera luas. Tidak hanya bisa “blusukan” ke seluruh pelosok daerah terpencil di tigapuluh lima propinsi Indonesia tapi juga bisa menjangkau negara-negara yang tersebar di tujuh benua di dunia.  

          Sebagaimana pengalaman Ramadhan kami tahun ini. Menjalankan ibadah Ramadhan di Amerika Serikat benar-benar memberikan sensasi rasa yang berbeda dengan Ramadhan tahun sebelumnya. Dengan mengikuti kegiatan-kegiatan Semarak Ramadhan yang diselenggarakan oleh IMSIS (Indonesian Muslim Society in America- Sister Division), berhasil membuat Ramadhan kami tetap ramai, hangat dan bermakna.

         Walau raga dan fisik anggota IMSIS ini tersebar di berbagai negara bagian Amerika dan penjuru Kanada, namun persaudaran tetap terjalin. Melalui dunia maya kami saling menyapa. Lewat media sosial kami saling mengakrabi. Memanfaatkan media digital dengan segala bentuk rupa dan kecanggihanya kami saling berbagi ilmu dan pengetahuan. Walau muka tidak bertemu, raga tidak berjumpa, tidak membatasi jiwa-jiwa kami untuk berhimpun, saling berwasiat dalam kebaikan dan saling menguatkan menapaki jalan kesabaran.

          Mulai dari artikel-artikel keislaman dan tips kesehatan di bulan Ramadhan yang dikirim secara rutin lewat milist. Resep-resep masakan menu sahur dan berbuka yang juga rutin dikirim lewat grup facebook. Kajian tarhib Ramadhan dan kuliah Dhuha yang diadakan tiap minggu lewat telebridge,  hingga kegiatan lomba-lomba kreatif untuk anak diselenggarakan demi menyemarakkan bulan Ramadhan. Dan itu semua, sekali lagi, dilaksanakan dengan memanfaatkan kekuatan media digital. Tanpa kehadiran fisik, tanpa bertemu muka, tanpa berjumpa raga.

          Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita saat ini untuk alpa dalam menuntut ilmu dan berdakwah. Keterbatasan waktu, jarak, dan kemampuan semua bisa disiasati dengan memanfaatkan media digital ini. Tak perlulah kita menunggu waktu bertahun-tahun dan mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk mengundang para penceramah kondang ke rumah. Kalau memang niat, mereka bisa kita datangkan setiap hari, bahkan setiap saat, kapanpun kita mau. Mulai dari yang lucu sampai yang serius bisa kita tentukan sesuai selera dan kebutuhan masing-masing. Jangankan ulama nasional, ulama internasional sekelas DR. Zakir Naik juga bisa kita hadirkan. Bahkan para ulama yang sudah meninggal pun bisa kita hidupkan kembali.

          Terus bagaimana caranya? Move on dong! Move on dari zona nyaman ke zona pembelajaran. Berani berpikir “out of the box”. Bersedia menerima perubahan zaman. Perubahan dari dakwah konvensional menjadi dakwah digital. Berubah dari jamaah manja menjadi jamaah yang mandiri. Jamaah-jamaah yang berperan aktif menjadi perpanjangan tangan para ulama. Menjadi fasilitator dalam gerakan dakwah digital ini. Tidak lagi hanya mencari kemanfaatan untuk diri sendiri dan keluarga, tapi mulai menularkan dan menyebarkan virus kebaikan ini kepada lingkungan sekitar.

          Mulailah dengan menyetelkan secara rutin dan berkesinambungan serial video-video ceramah atau kajian ilmu di tengah keluarga. Kemudian memasukkan agenda nonton bareng video-video tersebut di acara-acara silaturahmi warga. Misalnya di acara halal bihalal bada lebaran di RT masing-masing. Lanjut lagi misalnya, nonton bareng rekaman video Bunda Elly Risman tentang “Cara Berkomunikasi dengan Anak” di acara seminar digital parenting bersama para orang tua murid di sekolah tempat anak-anak kita belajar, dan lain sebagainya.

          Sehingga kelak kedepannya hal ini menjadi biasa. Gerakan digital teaching dan digital learning ini menjadi berkembang dan diterima. Tidak merasa heran dan jengah lagi bila di pengajian rutin ibu-ibu salah satu kegiatannya adalah menonton bareng video ceramah Mamah Dedeh. Di pengajian bapak-bapak pun menonton bareng serial DVD UYM “Semua Bisa Jadi Pengusaha”.  Atau pada kegiatan Tarhib Ramadhan, warga sekitar berkumpul dan salah satu acaranya adalah menyimak bareng rekaman ceramah dari Buya Hamka. Dalam majelis-majelis Dhuha, fasilitator memfasilitasi jamaah shalat dhuha dengan menyetelkan kajian tafsir Ustadz Firanda Andirja secara berkelanjutan.

          Kenapa tidak? Pertandingan Piala Dunia Eropa saja bisa kita nikmati dengan nonton bareng melalui media digital di mall-mall. Drama seri Korea pun kita buru hingga berpuluh-puluh episodenya. Mengapa nonton video ceramah tidak bisa kita laksanakan dengan metode serupa? Mengapa seri DVD ceramah tidak kita buru juga koleksinya?

          Metode dakwah digital ini dapat menyiasati keterbatasan waktu yang dimiliki oleh para penceramah karena padatnya jadwal undangan ceramah di berbagai tempat. Dapat menjadi solusi bagi para pencari nafkah yang pergi pagi pulang malam, sehingga kajian-kajian ilmu ini bisa dinikmati di sela-sela waktu istirahatnya atau saat mengalami kemacetan di jalan. Dapat menjadi sumber belajar bagi para ‘mamah muda’ dalam menjalankan tugas suci mendampingi tumbuh kembang balitanya.

          Ilmu-ilmu bisa sampai dengan baik kepada para pencarinya tanpa melibatkan kehadiran fisik para penyampai ilmu. Pesan-pesan dakwah menyebar kemana-mana tanpa harus membuat pendakwahnya berjalan ke mana-mana. Efektif dan efisien bukan?

        Bagaimana sahabat apakah anda siap untuk menjadi salah satu fasilitator dakwah digital ini?   

Inspirasi tulisan : http://risalahhati.yusufmansur.com/dakwah-digital/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments