Post Terakhir

Bukan Tentang Langit, Tapi Bumi

langit

Sebenarnya saat mengikuti event ini, saya kebingungan akan menulis tentang apa. Sudah ada ide, yaitu tentang Allah Maha Penyayang. Saya terinspirasi dari postingan Ustadz Yusuf Mansyur tentang surat Ar-Rahman (Penyayang). Hanya saja, saya masih bingung kasih sayang Allah mana yang akan saya tuliskan. KasihNya teramat banyak dan selalu datang tidak terduga-duga. Entah dari hal yang terkecil, sampai terbesar, semua hal di dunia ini adalah bentuk kasih sayangNya. Misalnya saja, saya adalah orang yang cuek dan ceroboh. Jarang sekali melihat makanan saat makan. Saya lebih sering memperhatikan layar ponsel sambil terus menyuapkan nasi ke mulut. Entah pada suapan ke berapa, tiba-tiba pandangan saya beralih ke makanan. Saya melihat ada satu isi staples di tengah-tengah makanan. Saya ambil dan buang. Maklum, saya membeli makanan pada bungkus kertas minyak, dan lupa membuang isi staples tersebut. Berulang kali saya mengucapkan Alhamdulilah. Bersyukur. Allah melindungi saya dari bahaya tersebut. Sampai detik ini, Allah selalu melindungi perjalanan jauh saya dari kecelakaan dan pencopetan.

Bahkan, ada nikmat terbesar Allah yang sampai saat ini tidak pernah saya sangka dan masih saja membuat saya terkagum-kagum. Saya batal menikah dengan seseorang dan Allah memberikan saya beasiswa kuliah. Sampai sekarang, saya tidak menyangka betapa Allah begitu menyayangi saya dengan caraNya. Awalnya memang menyakitkan kehilangan seseorang, tapi nyatanya Allah menggantikan dengan yang lebih baik. Sampai detik ini saya masih bisa duduk menulis untuk event ini pun, bagi saya adalah kasih sayangNya. Allah masih memberi saya napas kehidupan, rezeki halal, bahkan mempertemukan saya dengan Ramadhan. Semua caraNya sangatlah romantis.

Semua yang dilakukan untuk hambaNya sangatlah indah. Apapun itu. Namun, semua keindahan itu tidak akan berarti apa-apa, jika manusia itu sendiri tidak bisa mensyukuri apa yang telah diberikan Allah. Suatu malam saya pernah mengalami depresi berat. Berulang kali saya mengalami hal itu. Dimana hati merasa tidak nyaman, resah, kebingungan, dan pikiran sama sekali buntu tanpa alasan. Ingin menangis, tapi air mata serasa membeku. Setetes pun tidak bisa keluar. Mata rasanya sulit sekali terpejam. Untuk mengusir kebosanan yang semakin lama semakin menikam, saya mengambil ponsel dan membuka akun-akun sosmed saya. Berawal dari situlah, keresahan dalam hati saya semakin menjadi-jadi. Di akun facebook saya sering melakukan stalking pada beberapa teman. Entah itu teman lama, baru, bahkan orang yang tidak saya kenal. Melihat postingan status dan foto-foto mereka, saya merasa iri. Kehidupan mereka sangatlah bahagia. Mereka bisa mengunjungi beberapa kota besar untuk liburan. Pakaian-pakaian mereka mewah, dan saat ini mereka bisa kuliah di Perguruan Tinggi kota besar. Mereka mempunyai banyak moment kebahagiaan untuk diabadikan. Melihat kehidupan mereka yang lebih beruntung dari saya, percaya diri saya semakin turun. Saya merasa bukan apa-apa di mata semua orang. Hal ini membuat saya semakin down.

Sampai larut malam saya masih sibuk dengan kegiatan stalking. Entah, sudah berapa orang yang akun sosmednya berhasil saya ubek-ubek. Pukul satu dini hari, saya baru berhasil memejamkan mata. Entah sudah berapa lama saya tidur, tiba-tiba saya bangun dengan kepala terasa sakit. Mata saya sedikit terbuka. Saya lihat dari jendela, hari masih gelap. Ada suara lantunan ayat suci Al-Quran yang sangat jelas di telinga saya. Suara itu berasal dari Masjid yang tidak jauh dari kos tempat saya tinggal. Saya melihat jam pada layar ponsel. Masih pukul empat pagi. Waktu menjelang shubuh, di masjid tersebut memang sering terdengar bacaan-bacaan Al-Quran. Saya melanjutkan tidur. Mata saya memang terpejam, hanya saja saya tidak bisa tidur lagi. Telinga saya menangkap satu ayat yang membuat hati saya tertarik. Fa bi ayyi aalai Rabbikuma tukadzdzibaan. Ayat itu dibaca berulang kali dengan jeda satu ayat. Saya penasaran. Apakah ada surat pada Al-Quran yang bunyi ayatnya di ulang seperti itu. Saya memang pernah membaca Al-Quran sampai khatam. Tapi saya merasa tidak ada ayat yang diulang-ulang seperti itu. Saya mendengarkan bacaan tersebut sampai waktu Shubuh telah tiba.

Beberapa hari kemudian, saya membaca novel Setetes Embun Cinta Niyala karya Habiburrahman El-Shirazy. Ending pada novel itu menceritakan ada seorang laki-laki yang melamar seorang wanita dengan mahar hafalan surat Ar-Rahman. Saya penasaran dengan hal ini. Kenapa surat Ar-Rahman yang dipilih untuk menjadi mahar. Saya membuka Al-Quran terjemahan dan membaca surat tersebut beserta artinya. Betapa terkejutnya. Ternyata ayat yang saya dengar saat Shubuh lalu adalah surat Ar-Rahman. Arti dari ayat tersebut adalah Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Saya membaca surat tersebut sampai habis. Saya terdiam begitu lama selesai membacanya. Ya, saya menyadari selama ini saya sering melupakan nikmatNya yang begitu besar. Saya sering melihat kehidupan orang lain, sampai lupa apa yang saya miliki. Manusia sering melihat indahnya langit sampai melupakan keindahan bumi yang dibijaknya. Saya renungkan kalimat itu berulang kali.Saya sering meresahkan kehidupan ini, karena saya jarang mensyukuri apa yang telah Allah beri. Akhirnya saya tahu, kunci tenang dalam hidup ini adalah bersyukur.

Sumber gambar

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments